Semarang,Seputarjateng.id – Perekonomian Jawa Tengah menunjukkan performa impresif di awal tahun 2026. Di tengah tantangan global, stabilitas fiskal tetap terjaga, sementara belanja negara terbukti menjadi motor utama dalam menjaga pertumbuhan dan daya beli masyarakat.
Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Tengah, Arief Yanuar, dalam keterangan resminya secara daring, Kamis 26 Maret 2026.
Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2025 tercatat mencapai 5,84 persen (year-on-year), melampaui rata-rata nasional. Kinerja ini didorong oleh kuatnya ekspor serta pertumbuhan pesat di sektor jasa keuangan dan asuransi.
Menurut Arief Yuniar optimisme masyarakat juga masih tinggi. Indeks Keyakinan Konsumen pada Februari 2026 berada di level 126,4—menunjukkan kepercayaan yang solid terhadap kondisi ekonomi. Sementara itu, inflasi tetap terkendali di angka 4,43 persen (yoy), meski sempat terdorong oleh kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan.
Dari sisi kesejahteraan, indikator menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat menjadi 116,18 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) mencapai 103,45, mencerminkan daya beli pelaku sektor primer yang semakin membaik. Tingkat pengangguran pun turun menjadi 4,32 persen, kemiskinan menurun ke 9,39 persen, dan ketimpangan ikut membaik.
Kinerja fiskal tetap kuat dengan realisasi pendapatan negara mencapai Rp19,43 triliun hingga Februari 2026. Meski mengalami kontraksi tipis, komponen Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru melonjak signifikan hingga 27,95 persen.

Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp17,13 triliun dan tumbuh positif. Transfer ke daerah mendominasi aliran dana, memastikan roda ekonomi di tingkat lokal tetap berputar.
Hasilnya, APBN di Jawa Tengah mencatat surplus Rp2,30 triliun—menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan fiskal berjalan sehat dan efektif.
Tidak hanya pusat, keuangan daerah juga menunjukkan performa solid. APBD gabungan 36 pemerintah daerah mencatat surplus hingga Rp10,44 triliun, dengan SILPA mencapai Rp10,58 triliun.
Kondisi ini membuka ruang besar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat belanja, khususnya pada sektor produktif yang berdampak langsung pada masyarakat.

Menjelang Idulfitri, pemerintah menggelontorkan Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai stimulus ekonomi. Total lebih dari Rp2,9 triliun telah disalurkan kepada ASN di Jawa Tengah, mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga.
Di saat yang sama, sektor UMKM terus diperkuat. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp8,41 triliun, sementara pembiayaan Ultra Mikro (UMi) tumbuh pesat hingga hampir dua kali lipat. Ini menjadi bukti bahwa ekonomi kerakyatan tetap menjadi fondasi utama pertumbuhan daerah.
Dengan fondasi fiskal yang kuat, indikator ekonomi yang stabil, serta dukungan belanja negara yang konsisten, Jawa Tengah menunjukkan kesiapan untuk melanjutkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan sepanjang 2026.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku ekonomi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi di tengah dinamika global.(All)


