Trail Run Masuk Gua Jadi Daya Tarik Kebumen Geopark Trail Run 2026

Berita Rekomendasi


KEBUMEN
 — Ada yang berbeda untuk menikmati kekayaan alam Kebumen. Bukan hanya dengan memandang hamparan laut dari bibir pantai atau menyusuri kawasan wisata. Kali ini dengan berlari menembus jalur-jalur alami yang memperlihatkan wajah lengkap geopark Kebumen.

Itulah pengalaman yang ditawarkan dalam Kebumen Geopark Trail Run (KGTR) 2026. Ribuan peserta diajak berlari menjelajah rute yang memadukan panorama pesisir, perbukitan, sungai, pasir, hingga kawasan gua yang menjadi bagian dari warisan geologi Kebumen.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno yang mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen, turut merasakan langsung pengalaman tersebut saat membuka kategori 17K di Pantai Karangbolong Kebumen, Minggu, 28 Juni 2026.

Flag off dilakukan pukul 05.00 WIB. Sumarno tancap gas mengikuti rute hingga berhasil finis sekitar pukul 09.27 WIB.

Usai menyelesaikan lintasan, Sumarno mengaku terkesan dengan karakter rute KGTR yang menawarkan pemandangan berbeda dari event trail run pada umumnya.

“Ini menyuguhkan rute dan pemandangan yang luar biasa. Trail run mungkin tidak banyak yang bisa di rute sambil melihat laut. Ini luar biasa,” katanya.

Ia menilai event tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan potensi wisata Kebumen, terutama kekayaan alam yang terbentuk secara alami.

Baca Juga:  Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Pemkab Pati Hibahkan 5,2 Hektare Tanah kepada Perum BULOG

“Tadi masuk gua juga. Geopark ini adalah warisan kekayaan dan destinasi wisata bukan buatan. Kita tidak bisa membuat ini. Itu ciptaan Allah, mari kita cintai, kita jaga, dan kita lestarikan,” ujarnya.

Terkait keterbatasan penginapan yang menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan event, Sumarno menilai hal tersebut justru dapat menjadi peluang bagi masyarakat sekitar untuk ikut mengambil manfaat dari berkembangnya wisata Kebumen.

Ia mendorong agar rumah-rumah warga dapat dikembangkan menjadi homestay sehingga wisatawan dan peserta event memiliki lebih banyak pilihan tempat tinggal.

“Teman-teman di Kebumen harus berkreasi. Untuk event-event seperti ini mau tidak mau harus menggandeng masyarakat. Rumah-rumah masyarakat nanti bisa diajak, dilatih, diajari agar bisa disewakan kepada para peserta,” jelasnya.

Menurut Sumarno, konsep tersebut telah berjalan di sejumlah kawasan wisata. Salah satunya Borobudur, dengan melibatkan masyarakat sebagai tuan rumah bagi wisatawan.

“Yang dilakukan teman-teman di sekitar kawasan Borobudur itu mengedukasi masyarakat bagaimana rumahnya menjadi tuan rumah yang baik, bagaimana menghormati tamu, sehingga banyak wisatawan yang menginap di rumah-rumah warga,” ujarnya.

Baca Juga:  Perkuat Silaturahmi dan Sinergi, Danamon Gelar Rangkaian Buka Puasa Bersama Mitra Strategis

KGTR 2026 menjadi edisi kedua dengan konsep sport tourism yang menggabungkan tantangan olahraga sekaligus eksplorasi destinasi.

Race Director KGTR 2026, Leonardus Bagus, mengatakan, tahun ini terdapat empat kategori. Yakni 7K, 17K, 30K, dan 50K, dengan total peserta mencapai lebih dari 1.500 orang.

Kategori 50K menjadi tantangan paling ekstrem karena peserta tidak hanya melewati jalur alam. Tetapi juga masuk ke dalam dua gua. Yakni Gua Petruk sepanjang sekitar 300 meter dan Gua Wora-Wari di Pantai Lampon sepanjang 187 meter.

“Yang membuat event ini berbeda, rutenya paling komplit. Pelari mendapatkan rute pantai, gunung, pasir, sungai, sampai gua. Ini satu-satunya event di Indonesia yang ada segmen masuk gua,” jelas Leo.

Sementara kategori 17K yang diikuti Sekda Sumarno membawa peserta melewati sejumlah lanskap wisata Kebumen, mulai dari Karangbolong, Sagara, Watubalang, Surumanis, Lampon, hingga Pantai Pecaron.

Menurut Leo, keindahan rute menjadi alasan tingginya minat peserta. Bahkan panitia harus membatasi jumlah peserta karena kapasitas penginapan di sekitar lokasi masih terbatas.

“Kita sampai menolak peserta. Salah satu pertimbangannya adalah daya tampung homestay belum cukup banyak. Demi kenyamanan peserta kita batasi,” katanya.

Baca Juga:  Bertemu Menteri Ekraf, Ahmad Luthfi Berkomitmen Kembangkan Ekonomi Kreatif di Jateng

Dari sisi ekonomi, KGTR 2026 juga memberikan dampak bagi Kebumen. Leo menyebut perputaran uang dari biaya pendaftaran mencapai sekitar Rp900 juta. Jika ditambah belanja peserta untuk penginapan, konsumsi, dan kebutuhan lainnya, nilai ekonomi yang berputar diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.

“Ini jauh lebih tinggi dari tahun kemarin,” katanya.

Bagi peserta, tantangan jalur justru menjadi bagian yang paling menarik. Raivan Gustian Santiko asal Purworejo yang finis pertama kategori 17K mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengikuti trail run.

“Sangat menakjubkan. Pertama kali ikut trail run langsung kagum. Medannya menantang, tapi pemandangannya luar biasa,” katanya.

Ia menyebut dukungan warga sepanjang jalur menjadi energi tambahan ketika tenaga mulai terkuras.

“Walaupun capek, ada supporter yang memberi semangat. Jadi lebih bergairah lagi,” ujarnya.

Peserta kategori 7K asal Solo, Elang Arya, juga mengaku terkesan dengan panorama yang disuguhkan. Meski harus menghadapi tanjakan berat, pemandangan laut menjadi penyemangat selama perjalanan.

“Pemandangannya indah banget. Kalau lagi capek, lihat laut jadi semangat lagi,” ucapnya.**

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini