Dua Abad Bertahan, Taj Yasin Apresiasi Tradisi Keilmuan Watucongol

Berita Rekomendasi


MAGELANG
 – Lebih dari dua abad lalu, Pondok Pesantren Darussalam Watucongol lahir dari lingkungan perjuangan melawan kolonialisme.

Kini, ketika tradisi pendidikan dan keagamaannya masih bertahan, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen merasa senang dan mendorong agar warisan keilmuan tersebut terus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pesantren yang didirikan Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa sekitar 1820 itu tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama. Sang pendiri juga dikenal sebagai salah seorang senopati atau panglima Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.

Jejak sejarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan Watucongol hingga kini. Tradisi pendidikan dan keagamaan terus dijalankan, salah satunya melalui pembacaan Al-Qur’an dan Dalailul Khairat, kitab berisi kumpulan shalawat dan doa yang diamalkan secara rutin di lingkungan pesantren.

Baca Juga:  Ahmad Luthfi Genjot Speling hingga Desa Terpencil, TBC dan Stunting Jadi Prioritas

Hal itu menjadi perhatian Taj Yasin saat menghadiri Haflah Akhirussanah ke-8 Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, Muntilan, Kabupaten Magelang, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menilai tradisi membaca Al-Qur’an dan Dalailul Khairat memiliki peran dalam membentuk lingkungan keilmuan pesantren. Menurutnya, banyak orang menjadi alim melalui proses pendidikan dan tradisi keagamaan yang dijalankan secara konsisten.

“Di dalam khataman Al-Qur’an, ada Dalailul Khairat. Ini mengantarkan banyak orang menjadi alim. Sebabiyah yang pertama adalah Al-Qur’an, kemudian Dalailul Khairat,” katanya.

Menurutnya, kekuatan tradisi tersebut salah satunya terletak pada istiqamah atau konsistensi dalam menjalankannya. Pembacaan Dalailul Khairat, misalnya, dibagi berdasarkan hari sehingga lebih ringan untuk diamalkan secara rutin.

“Dalailul Khairat dibagi dari Senin, Selasa sampai kembali Senin lagi. Ini meringankan wiridan supaya kita bisa istiqamah,” ujarnya.

Gus Yasin mengatakan keberadaan pesantren dan majelis ilmu yang masih aktif menjadi hal yang menggembirakan bagi pemerintah. Ia berharap tradisi keagamaan dan keilmuan seperti yang dijalankan Watucongol terus tumbuh di berbagai daerah Jawa Tengah.

Baca Juga:  Enam Daerah Siap Kerja Sama, RDF Jadi Energi Alternatif Jateng

“Atas nama pemerintah, saya senang kalau pengajian-pengajian seperti ini masih berjalan di wilayah Jawa Tengah,” katanya.

Sejarah Watucongol sendiri menunjukkan panjangnya perjalanan pesantren dalam menjaga pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat. Kementerian Agama mencatat para pendiri Pesantren Darussalam sebagai ulama sekaligus mujahid yang terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Kini, warisan tersebut berlanjut dalam bentuk pendidikan pesantren dan tradisi keagamaan yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:  Kinerja 2025 Membaik, Ahmad Luthfi Ajak ASN Perkuat Kolaborasi

Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, KH Aly Qoishor Ahmad Abd Haq, yang lebih dikenal Gus Mad, mengatakan keberlangsungan pesantren hingga saat ini tidak terlepas dari amanah para orang tua yang menitipkan pendidikan anak-anak mereka.

Ia menggambarkan pengabdian para pengasuh sebagai tanggung jawab untuk menjalankan amanah tersebut, bukan sekadar pekerjaan yang berorientasi pada imbalan.

“Jenenge wong akon niku hakikine juragan sing dikon jenenge kuli. Dadi mboten kyai tapi kuli (Namanya orang yang menyuruh itu sebenarnya adalah juragan, sedangkan orang yang disuruh disebut kuli. Jadi, bukan kyai, tetapi kuli),” ujarnya.

Menurutnya, para pengasuh, keluarga, dan seluruh unsur pesantren berupaya menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya agar Ponpes Darussalam Timur terus memberikan manfaat.***

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini