Anak-anak SLB Semarang Rayakan Kemerdekaan dengan Kostum dan Segudang Cita-cita

Berita Rekomendasi


SEMARANG
 – Satu per satu siswa memasuki halaman SLB Negeri Semarang sejak pukul 07.00 WIB. Wajah mereka tampak ceria. Kostum yang dikenakan pun beragam. Ada seragam loreng TNI, pakaian polisi, dokter, busana pahlawan, hingga kostum tokoh pewayangan.

Halaman sekolah pagi itu berubah menjadi panggung bagi ratusan mimpi anak-anak.

Sekitar 1.200 peserta yang terdiri atas siswa dan orang tua mengikuti karnaval untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka berasal dari berbagai kelompok siswa berkebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, hingga autisme.

Meski memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda, mereka larut dalam suasana kemerdekaan. Senyum, tawa, dan semangat terlihat sepanjang kegiatan.

Karnaval itu bukan sekadar parade kostum. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, menunjukkan keberanian, sekaligus menumbuhkan cita-cita.

Kemeriahan yang terlihat pagi itu tidak muncul secara tiba-tiba. Di balik kostum yang dikenakan para siswa, ada persiapan panjang bersama orang tua.

Hampir satu bulan, orang tua dan anak menyiapkan berbagai kebutuhan untuk tampil dalam karnaval. Mereka memilih tema, menyiapkan pakaian, aksesori, hingga perlengkapan pendukung.

Hasilnya terlihat dalam parade.

Pahlawan super Indonesia seperti Wiro Sableng, Gundala, Saras 008, hingga Sri Asih hadir dengan karakter masing-masing. Tema pendidikan menampilkan sosok Ki Hajar Dewantara dan RA Kartini.

Kelompok lainnya mengangkat tema pertanian dengan berbagai simbol dan perlengkapan tani. Ada pula tema sepak bola Indonesia yang membawa semangat olahraga.

Baca Juga:  Irwan Hidayat Raih Gelar Doktor Honoris Causa dari Unnes

Sementara itu, dunia pewayangan tampil melalui tokoh Pandawa, Srikandi, dan prajurit Jawa.

Setiap kostum seolah memiliki cerita sendiri. Mereka berjalan bersama membawa semangat kemerdekaan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SLB Negeri Semarang, Aris Wibowo, mengatakan pemilihan karakter dalam karnaval memiliki makna bagi perkembangan anak.

Menurutnya, sosok yang mereka pilih dapat menjadi gambaran tentang cita-cita yang ingin mereka bangun.

“Kostum idola ini membentuk mindset anak-anak untuk mempunyai cita-cita. Mereka punya cita-cita seperti yang mereka harapkan, sehingga nantinya mereka akan bertumbuh sesuai cita-citanya,” kata Aris.

Berjalan Bersama Merayakan Kemerdekaan

Setelah seluruh peserta siap, rombongan karnaval bergerak dari sekolah menuju kawasan Artomoro. Jarak yang ditempuh sekitar satu kilometer sebelum mereka kembali ke sekolah.

Para orang tua ikut mendampingi, terutama siswa yang membutuhkan bantuan selama perjalanan.

Bagi mereka, perjalanan tersebut bukan sekadar menempuh jarak. Ada pengalaman untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan tampil di hadapan masyarakat.

Kehadiran anak-anak SLB di ruang publik sekaligus menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk menikmati kemeriahan perayaan kemerdekaan.

Aris mengatakan, kesempatan tersebut menjadi salah satu tujuan utama kegiatan.

“Output yang pertama memberikan kebahagiaan buat mereka. Anak-anak berkebutuhan khusus ini tidak banyak diberi kesempatan. Kami ingin memberi kesempatan kepada mereka untuk merayakan Indonesia merdeka,” ujarnya.

Baca Juga:  USM - Lemhanas Sepakat Kerja Sama Penguatan SDM Berbasis Kebangsaan

Ia berharap kebahagiaan yang dirasakan siswa dapat menjadi energi positif untuk meningkatkan semangat belajar dan berkembang.

Sebab, bagi anak-anak berkebutuhan khusus, kesempatan untuk tampil dan berinteraksi secara luas tidak selalu datang setiap hari.

Karnaval menjadi salah satu ruang untuk membuka kesempatan tersebut.

Ketika Karnaval Menjadi Ruang Inklusi

Kemeriahan tidak hanya melibatkan siswa, guru, dan orang tua.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi SLB Negeri Semarang dengan Universitas Sains dan Teknologi Komputer (Stekom), dunia usaha, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap inklusi.

Bagi Rektor Stekom, Dr. Joseph Teguh Santoso, M.Kom. mengatakan, keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting untuk membangun interaksi antara penyandang disabilitas dan masyarakat.

Ia mengajak 150 mahasiswa terlibat langsung, sementara 20 pelaku usaha turut ambil bagian dalam kegiatan.

“Tujuan utama karnaval ini adalah membangun pola kolaborasi antara pihak luar, yaitu pengusaha atau industri, universitas, dan SLB. Harapannya, semangat untuk peduli inklusi dan memiliki sikap ramah terhadap penyandang disabilitas semakin tumbuh,” katanya.

Menurut Joseph, interaksi secara langsung dapat membuka pemahaman masyarakat mengenai kemampuan dan potensi penyandang disabilitas.

Hal itu juga penting bagi dunia usaha. Dengan bertemu dan berinteraksi secara langsung, perusahaan dapat melihat potensi yang dimiliki penyandang disabilitas sekaligus memahami kebutuhan pendampingan di lingkungan kerja.

Baca Juga:  Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Dorong Mahasiswa Baru USM Jadi Pemimpin Masa Depan

Kerja sama Stekom dengan SLB Negeri Semarang sendiri telah berlangsung sekitar empat tahun.

Kolaborasi dilakukan dalam berbagai kegiatan, mulai dari kunjungan, pelatihan, dan asesmen hingga membuka peluang rekrutmen melalui mitra industri.

Stekom juga mendorong perusahaan agar semakin terbuka memberikan kesempatan kerja kepada lulusan SLB.

Kolaborasi serupa kini telah dilakukan dengan sekitar 30 SLB di Jawa Tengah dan Bali.

Harapannya, lulusan SLB tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga memiliki jalan untuk mengembangkan kemampuan dan memasuki dunia kerja.

Semangat membangun lingkungan yang lebih inklusif juga mendapat dukungan dari BNI.

Pemimpin BNI Kantor Cabang Pamularsih, Ita Irawati, mengaku terkesan mengikuti kegiatan tersebut.

“Ini baru pertama kali kami ikut dalam acara seperti ini dan cukup merinding. Kegiatan seperti ini layak terus dilanjutkan karena dapat memperkuat kepedulian sekaligus membuka ruang kolaborasi,” ujarnya.

Menjelang siang, rombongan kembali ke halaman sekolah.

Setelah berjalan dan mengikuti parade, para siswa kembali berkumpul. Hadiah dan doorprize dibagikan. Suasana kembali dipenuhi sorak dan tawa.

Kegiatan yang dimulai sejak pagi itu pun berakhir dengan wajah-wajah bahagia.

Bagi anak-anak SLB Negeri Semarang, kemerdekaan bukan sekadar perayaan. Kemerdekaan juga berarti memiliki ruang untuk tampil, berekspresi, bermimpi, dan menjadi bagian dari masyarakat.

Dari halaman sekolah itu, semangat kemerdekaan terasa sederhana, tetapi bermakna: kemerdekaan adalah milik semua.***

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini