Misa Syukur 49 Tahun Gereja Santo Paulus Sampangan, Persaudaraan Jadi Kekuatan Membangun Gereja

Berita Rekomendasi


Semarang, Seputarjateng.id- Perayaan Misa Syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 Gereja Santo Paulus Sampangan, Kota Semarang, berlangsung khidmat sekaligus penuh nuansa persaudaraan. Mengusung semangat persatuan, perayaan tersebut menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan gereja sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.


Misa Syukur digelar di Gereja Santo Paulus Sampangan, Minggu (23/8/2026). Suasana perayaan semakin semarak dengan lantunan lagu Mari Masuk Rumah Tuhan yang dibawakan kelompok paduan suara Diaspora Flobamora yang tinggal di Kota Semarang, khususnya wilayah Sampangan dan sekitarnya.


Penampilan tersebut diiringi rampak musik tradisional dan teren bass. Perarakan menuju altar juga dimeriahkan tarian khas Nusa Tenggara Timur (NTT), menambah kekhidmatan sekaligus menghadirkan warna budaya dalam perayaan misa.


Misa konselebrasi dipimpin Romo Antonius Amisani Kurniadi, Pr., Pastor Paroki Randusari Katedral Semarang. Ia didampingi Romo Antonius Koko Kristianto, Pr., Vikaris Paroki Randusari Katedral Semarang, serta Romo Martin Mariosa Kleruk, MSF., Sekretaris Keuskupan Agung Semarang.


Dalam homilinya, Romo Martin menegaskan bahwa keberadaan Gereja Santo Paulus Sampangan selama 49 tahun merupakan buah nyata dari persatuan dan persaudaraan umat.


“Gereja Santo Paulus Sampangan yang saat ini telah berusia 49 tahun merupakan wujud nyata dari persatuan dan persaudaraan,” ujar Romo Martin.


Ia menyebut umat yang membangun kehidupan gereja di Sampangan berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Selain warga asli Sampangan dan sekitarnya, terdapat umat dari Yogyakarta, Blora hingga komunitas Flobamora yang berasal dari Flores, Sumba, Timor dan Alor.


“Mereka bersatu dan menjadi saudara dalam satu iman,” katanya.


Menurut Romo Martin, semangat persatuan dan persaudaraan tersebut menjadi kekuatan yang membuat Gereja Santo Paulus Sampangan dapat berkembang hingga memiliki bangunan dan berbagai fasilitas pendukung.


Ia berharap perkembangan tersebut dapat menjadi bekal bagi Stasi Sampangan untuk suatu saat nanti berdiri mandiri sebagai paroki, sebagaimana yang diimpikan umat.

Baca Juga:  Gubernur Ahmad Luthfi Serahkan Sapi Kurban Pribadi untuk Warga Huntara Tegal


Dalam kesempatan tersebut, Romo Martin juga menyinggung pembangunan Grha Tesalonika yang disebutnya berlangsung sangat cepat.


“Tadi saya mendapatkan bisikan, setelah misa selesai kami diminta untuk memberkati salah satu gedung Grha Tesalonika yang dibangun hanya dalam kurun waktu empat bulan. Ini sebuah rekor pembangunan fasilitas gereja yang sangat cepat sekali. Kayaknya perlu diusulkan untuk masuk Museum Rekor Indonesia (MURI),” selorohnya yang disambut tawa umat.


Senada, Romo Amisani Kurniadi mengatakan persatuan dan kesatuan merupakan fondasi penting dalam kehidupan paguyuban gereja.
Menurutnya, semangat tersebut terlihat dalam perayaan HUT ke-49 Gereja Santo Paulus Sampangan melalui keterlibatan umat Diaspora Flobamora dalam paduan suara.


“Koornya sangat bagus sekali. Sudah pernah tugas di Gereja Katedral? Kalau belum biar nanti kami atur jadwalnya. Apabila sanggup, satu bulan bisa dua kali tugas ya,” ujar Romo Kurniadi, disambut tepuk tangan umat.


Selain berbicara mengenai persatuan, Romo Kurniadi juga mengajak para orang tua untuk memberikan ruang kepada anak-anak yang memiliki panggilan hidup untuk menjadi imam, suster maupun bruder.


“Saya juga mengimbau kepada orang tua untuk merelakan putra-putrinya menjadi imam atau suster atau bruder. Kalau mereka mau masuk di Seminari Menengah Mertoyudan, jangan dilarang,” pintanya.


Ia menjelaskan, masuknya seseorang ke seminari tidak berarti otomatis akan menjadi pastor. Menurutnya, hanya mereka yang benar-benar memiliki panggilan yang nantinya melanjutkan jalan hidup sebagai imam.


Pesan tersebut disampaikan mengingat selama 49 tahun perjalanan Gereja Santo Paulus Sampangan baru melahirkan satu imam dan satu seminaris yang saat ini menjalani pendidikan di Seminari Mertoyudan.

Baca Juga:  CitraGrand Bagi Bagi "THR" Beli Rumah Bonus Emas 30 Gram


HUT Gereja Diwarnai Solidaritas untuk Korban Gempa NTT

Ketua Panitia HUT ke-49 Gereja Santo Paulus Sampangan, Petrus Pamula Hendarto, mengatakan sejumlah kegiatan telah digelar untuk menyambut ulang tahun gereja, mulai dari Lingkungan Bersapa, bazar, Misa Syukur hingga Pesta Umat.


Ia menyampaikan apresiasi kepada umat Diaspora Flobamora yang untuk pertama kalinya terlibat langsung dalam rangkaian perayaan HUT Gereja Santo Paulus Sampangan.


Petrus juga mengajak umat yang hadir untuk menunjukkan solidaritas kepada masyarakat NTT yang terdampak gempa bumi.


“Di tengah kegembiraan ini, hati kita juga tertuju kepada saudara-saudari kita di NTT yang sedang mengalami duka akibat gempa bumi. Kami mengetuk hati Bapak, Ibu, dan saudara-saudari sekalian untuk memberikan sumbangan secara sukarela,” ujarnya.


“Dari Sampangan, semoga kasih kita menjangkau NTT. Dari tangan kita, semoga lahir sedikit harapan bagi mereka yang sedang berduka,” imbuhnya.


Ketua Stasi Gereja Santo Paulus Sampangan, Agustinus Haryanto Hadiwardoyo, turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan umat yang telah bersama-sama mewujudkan rangkaian kegiatan HUT ke-49.


Ia berharap momentum ulang tahun gereja semakin mempererat kebersamaan umat.


“Semoga dengan ulang tahun yang ke-49 ini kita tetap menyatu, guyub, nderek Gusti, migunani,” tuturnya.


Koor Flobamora: Pelayanan di Tengah Duka Gempa
Sementara itu, dirigen koor Flobamora, Dewi Ratna Jai, mengatakan keterlibatan komunitas Diaspora Flobamora dalam Misa Syukur HUT ke-49 memiliki makna khusus.


Dewi yang berasal dari Bea Muring, Desa Leong, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, mengatakan gempa bumi yang melanda NTT telah membawa duka mendalam bagi keluarga besar Flobamora, termasuk mereka yang berada di Semarang.


“Duka karena gempa di Flores telah menghancurkan begitu banyak mimpi dan membawa pergi untuk selama-lamanya orang yang dikasihi menjadi luka mendalam bagi segenap keluarga Flobamora, termasuk yang di Semarang,” ungkap Dewi seusai misa.

Baca Juga:  181 Anak Disabilitas Jateng Dapat Alat Bantu, Luthfi Dorong Kesetaraan


Namun, di tengah duka tersebut, mereka tetap berusaha memberikan pelayanan melalui musik dan pujian.


“Di tengah duka itu Tuhan memanggil kami untuk tetap memuji dan memuliakan nama-Nya dalam pelayanan koor HUT ke-49 Gereja St. Paulus Sampangan. Bagi kami ini bukan sekadar pelayanan, tetapi saat yang tepat untuk mensyukuri dan berserah pada Tuhan terutama dalam situasi tanpa kepastian dan keputusasaan,” katanya.


Menurut Dewi, momentum gempa bumi terjadi bertepatan dengan masa persiapan latihan koor. Ia memandang peristiwa tersebut sebagai bagian dari perjalanan iman yang harus dihadapi dengan keteguhan hati.


Dukungan panitia dan umat Gereja Santo Paulus Sampangan, lanjutnya, semakin menguatkan komunitas Flobamora.


“Tuhan sungguh menguatkan kami dalam pelayanan ini terutama melalui panitia yang memberi ruang istimewa bagi kami; ada intensi misa untuk korban gempa, ada kotak solidaritas bagi semua yang terdampak,” ujarnya.


Dewi menilai perayaan HUT ke-49 Gereja Santo Paulus Sampangan akhirnya tidak hanya menjadi perayaan sukacita, tetapi juga menjadi ruang untuk berbagi duka dengan keluarga di Flores.


“Perayaan 49 tahun Gereja St. Paulus Sampangan akhirnya berbagi suka dan duka dengan keluarga kami di Flores. Bahkan misa yang seharusnya dipenuhi sukacita juga terselip duka cita kami,” katanya.


Ia pun menyampaikan terima kasih kepada umat Gereja Santo Paulus Sampangan yang telah memberikan kesempatan kepada Diaspora Flobamora untuk melayani dalam perayaan tersebut.


“Semoga kebaikan hati Anda semua dibalas kemurahan hati Allah. Doa kami semoga Sampangan menjadi wajah Tuhan bagi semua yang membutuhkan,” pungkasnya.(**)

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini