Oleh: DR. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B.(Pakar Kesehatan, Biomedis, dan Pemerhati Studi Islam)
PADA era modern, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan holistik semakin meningkat. Salah satu tren preventif yang kembali naik daun adalah konsumsi minuman berbasis mikrobioma hasil fermentasi, seperti kombucha, cuka buah (fruit vinegar), rendaman buah dan kulit buah dalam madu atau sari tebu, hingga produk fermentasi susu dan buah legendaris dunia.
Sebagai praktisi medis, biomedis, dan akademisi yang juga mendalami studi Islam, saya melihat fenomena ini bukan sekadar tren kuliner fungsional, melainkan sebuah persimpangan harmonis antara sains biomedis modern, sejarah peradaban global, sunah nabawi, dan prinsip syariah Islam.
Bagaimana transformasi biokimia ini terjadi, apa kaitannya dengan warisan para nabi, serta bagaimana peradaban lintas benua memanfaatkan teknologi fermentasi untuk kesehatan dan alam?
Warisan Sejarah & Sunah Nabi: Kefir “Mutiara Putih” dan Nabeedh (Rendaman Kurma)Jauh sebelum era bioteknologi modern, peradaban kuno dan tradisi kenabian telah mengenal keajaiban mikrobioma fermentasi sebagai sumber penyembuhan.
1. Kefir: “Mutiara Putih” Pegunungan Kaukasia

Dalam sejarah mikrobiologi pangan, biji kefir (kefir grains) dikenal sebagai “Butiran Nabi” atau “Mutiara Putih”. Konon, biji kefir pertama kali diberikan oleh Nabi Ibrahim AS kepada masyarakat Pegunungan Kaukasia Utara sebagai bentuk berkah dan rahasia kesehatan panjang umur.
Secara historis, butiran agar-agar putih ini dijaga ketat kerahasiaannya oleh masyarakat setempat karena dianggap menyerupai embun surga yang membeku—mampu mengubah susu menjadi minuman probiotik kaya asam laktat dan khamir yang menyembuhkan berbagai penyakit pencernaan serta memperkuat daya tahan tubuh.
2. Nabeedh: Tradisi Fermentasi Rendaman Kurma

Rasulullah SAWDalam tradisi Islam, Rasulullah SAW terbiasa mengonsumsi nabeedh—air rendaman kurma atau kismis yang didiamkan selama semalam hingga dua malam, kurang lebih 12 hingga 36 jam, di dalam wadah tertutup gerabah (naqir atau hantam).
Proses & Sains: Proses perendaman ini memicu fermentasi alami gula buah oleh ragi liar (wild yeast), menghasilkan asam organik ringan dan probiotik alami tanpa mencapai tahap memabukkan.
Tinjauan Hadis: Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa nabeedh biasa disiapkan untuk Rasulullah SAW di malam hari, lalu diminum pada keesokan harinya dan hari berikutnya hingga sore hari ketiga. Minuman ini berfungsi sebagai hidrasi fungsional yang menyegarkan lambung dan memulihkan energi secara instan.Allah SWT berfirman mengenai buah kurma dan anggur dalam Al-Qur’an:
«”Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (QS. An-Nahl: 67).
»Catatan: Ayat ini membedakan antara produk yang disalahgunakan menjadi zat memabukkan dengan rezeki yang baik (thayyib).Anatomi Biokimia: Transformasi Jangka Panjang Buah, Madu, dan Sari Tebu
Ketika buah, kulit buah, atau sari tebu direndam dalam madu atau larutan gula alami di dalam wadah tertutup dalam rentang waktu berbulan-bulan hingga tahunan, terjadi proses biokimia yang luar biasa:
– Fase Awal (Glikolisis & Alkohol): Ragi mencerna gula sederhana menghasilkan etanol dan gas CO₂ sebagai produk antara.
– Fase Oksidasi Asam Asetat: Bakteri Asam Asetat (AAB) mengonsumsi etanol dan mengubahnya menjadi asam asetat.
– Fase Jangka Panjang (Istihalah Alami): pH turun di bawah 3,5. Madu dan asam organik bertindak sebagai pelarut alami yang mengekstraksi fitokimia kompleks dari kulit buah—seperti polifenol dan flavonoid—menjadi tonik antioksidan tinggi.
Tinjauan Studi Islam: Alkohol vs. Peningkatan Zat Asam (Istihalah)Dalam hukum Islam (fiqh), status minuman fermentasi jangka panjang ditinjau dari konsep istihalah (transformasi zat). Para ulama sepakat bahwa jika suatu substansi yang tadinya melewati fase beralkohol mengalami perubahan sifat secara total dan alami menjadi zat lain—seperti berubah menjadi cuka (khall)—maka zat tersebut menjadi suci dan halal dikonsumsi.
Rasulullah SAW bersabda:
«”Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim).»Jika fermentasi dilakukan dalam wadah tertutup hingga seluruh etanol teroksidasi sempurna menjadi asam asetat dan secara medis tidak lagi memabukkan, maka status hukumnya halal sebagai penguat pencernaan (thayyib).
Lintas Peradaban: Bioenzim Tradisional di Jawa, Jepang, China, Arab, hingga Ekosistem Ekstrem Antartika
Teknologi fermentasi mikrobioma tidak hanya terbatas pada konsumsi manusia, tetapi telah berakar lintas budaya sebagai agen penyeimbang ekosistem dan pertanian organik yang dikenal luas sebagai bioenzim (eco-enzyme / fermentasi buah Nusantara).
– Masyarakat Jawa & Nusantara: Tradisi merendam sisa buah, rempah, dan tetesan tebu/gula merah dalam wadah tertutup berbulan-bulan menghasilkan cairan fermentasi yang digunakan bukan hanya untuk kesehatan tradisional, tetapi juga penyubur tanah, pengendali hama alami, dan pembersih lingkungan.
– Jepang (Enzoku / Koso) & China: Penggunaan ekstrak fermentasi nabati berabad-abad lamanya di Asia Timur diandalkan untuk detoksifikasi tubuh, pengawetan pangan, hingga revitalisasi tanah pertanian.
– Dunia Arab: Tradisi pemanfaatan cuka kurma dan sari fermentasi buah lokal menjadi pilar penyeimbang ekosistem gurun yang kering.
– Adaptasi Ekstrem (Hingga Wilayah Kutub/Antartika): Prinsip mikrobioma tahan dingin dan bakteri psikrofilik dalam produk fermentasi terbukti mampu bertahan dan dimanfaatkan dalam riset bioteknologi modern untuk menjaga kesuburan media tanam tertutup (greenhouse ilmiah) di lingkungan paling ekstrem sekalipun.
Aplikasi Bioenzim untuk Pertanian, Perikanan, dan PengairanKetika cairan bioenzim fermentasi jangka panjang diaplikasikan ke alam:
– Pertanian: Menguraikan residu kimia tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara makro dan mikro, serta merangsang mikroorganisme baik tanah.
– Perikanan & Kolam Ikan: Menekan pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio, menguraikan sisa pakan organik di dasar kolam, menstabilkan pH air, serta meningkatkan suplai oksigen terlarut demi kesehatan ekosistem tambak.
– Pengairan & Irigasi Sawah: Menjernihkan air saluran irigasi, mengurangi pencemaran limbah organik, dan menyuburkan ekosistem perairan sawah secara alami.
Manfaat Kesehatan Berkelanjutan: Dari Sel hingga Tubuh ParipurnaManfaat minuman fermentasi mikrobioma bekerja secara berlapis:
– Tingkat Sel (Cellular): Polifenol melindungi membran sel dari stres oksidatif dan kerusakan DNA.
– Tingkat Jaringan (Tissue): Mempercepat regenerasi mukosa usus dan meredakan inflamasi sistemik.
– Tingkat Organ (Organ): Menyeimbangkan mikrobioma usus, meringankan kerja hati, dan mengontrol keasaman lambung.
– Tubuh Secara Holistik: Meningkatkan imunitas, menjaga kestabilan metabolik, dan mendongkrak vitalitas fisik.
Refleksi Penutup
Kearifan para nabi, seperti tradisi nabeedh dan berkah kefir, serta warisan leluhur Nusantara hingga global dalam mengolah hasil bumi melalui fermentasi ternyata sangat sejalan dengan kaidah biomedis modern dan tuntunan syariat Islam.
Dengan memanfaatkan bioteknologi mikrobioma ini secara bijak—baik untuk kesehatan tubuh manusia maupun keberlangsungan ekosistem alam, pertanian, dan perikanan—kita sedang merawat amanah kekhalifahan di bumi demi mewujudkan kualitas hidup umat yang sehat, mandiri, dan sejahtera.(**)


