Cegah Perundungan, Taj Yasin Dorong Sinergi Pesantren dan Kampus

Berita Rekomendasi


SEMARANG
– Kasus perundungan yang berujung kematian anak di Pemalang hingga pembunuhan anggota keluarga di Brebes menjadi perhatian Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.

Ia menilai, persoalan sosial semacam itu membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kalangan pesantren dan perguruan tinggi.

Menurut Taj Yasin, pendidikan agama dan keilmuan akademik perlu berjalan beriringan agar dapat memberikan kontribusi lebih luas dalam menjawab persoalan di masyarakat.

“Ini harus ada obatnya. Nah, obatnya itu apa? Kolaborasi antara keagamaan dengan civitas akademika kampus,” kata Taj Yasin usai memberikan pengarahan dalam seremoni penyerahan beasiswa Mahasantri Ma’had Aly dan Santri Penggerak 2026 di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin, 19 Oktober 2026.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini menjelaskan, Pemprov Jateng berupaya membangun kolaborasi tersebut melalui program beasiswa bagi mahasantri Ma’had Aly dan mahasiswa aktivis yang tinggal di pondok pesantren.

Program yang diselenggarakan melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Provinsi Jawa Tengah itu tidak hanya dimaksudkan untuk membantu biaya pendidikan. Pemprov Jateng juga ingin mempertemukan mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi berbasis pesantren.

Taj Yasin mengatakan, selama ini mahasantri Ma’had Aly belum banyak tersentuh bantuan pemerintah daerah karena berada dalam lingkup pendidikan Kementerian Agama, berbeda dengan perguruan tinggi umum yang berada di bawah kementerian yang membidangi pendidikan tinggi.

Baca Juga:  Partisipasi PAUD Naik dalam Setahun, Wagub Jateng Beri Apresiasi Bunda PAUD

Karena itu, beasiswa tersebut menyasar dua kelompok sekaligus, yakni 424 mahasantri Ma’had Aly dan 58 Santri Penggerak. Kelompok terakhir merupakan mahasiswa yang aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus dan tinggal di pondok pesantren.

Ke depan, Taj Yasin membuka peluang untuk menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri Ma’had Aly. Mereka diharapkan dapat bertemu di daerah pengabdian, bertukar pandangan, dan bersama-sama melihat kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin memadukan, ingin mengajak kolaborasi. Nanti KKN dari kampus dan KKN dari Ma’had Aly bisa kita gabungkan. Mungkin nanti satu bertemu di daerah yang dibutuhkan, mereka bisa berdiskusi di sana,” ujarnya.

Ia menambahkan, penentuan penerima beasiswa juga mempertimbangkan kondisi ekonomi dan capaian akademik. Dengan begitu, bantuan pendidikan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan sekaligus mendukung keberlanjutan studi.

Baca Juga:  52 Sekolah dan Madrasah di Jateng Ditetapkan sebagai Adiwiyata 2026

Manfaat beasiswa tersebut dirasakan langsung oleh Alaika Hilma, mahasantri semester enam Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an (MAYQ) Kudus, jurusan Ulumul Qur’an, Fakultas Ushuluddin.

Sebelum menerima bantuan, ia harus menjalani pekerjaan lepas atau freelance untuk membantu memenuhi kebutuhan biaya kuliahnya.

Bagi Alaika, beasiswa dari Pemprov Jateng bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga mengurangi beban yang selama ini harus ia pikirkan di tengah kewajiban menyelesaikan pendidikan.

“Dengan adanya program ini saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran UKT tadi. Belajar juga makin fokus dan perkuliahan lebih maksimal lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan, proses pengajuan beasiswa di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an berjalan lancar karena pihak lembaga turut membantu proses pemberkasan. Dari ma’had tersebut, sebanyak 13 mahasantri dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.

Pengalaman berbeda disampaikan Silvi Dyah Oktaviani, mahasiswa semester lima UIN Sunan Kudus asal Demak. Selain menjalani perkuliahan, ia tinggal di Pondok Pesantren Bustanul Furqon Asy-Syafi’iyyah, sebuah pesantren mahasiswa di Kudus.

Rutinitas Silvi tidak berhenti setelah kegiatan akademik di kampus selesai. Ia juga aktif dalam organisasi kampus dan mengikuti kegiatan pesantren, termasuk mengaji selepas Magrib hingga sekitar pukul 21.00.

Baca Juga:  Beasiswa Santri Pemprov Jateng Tanggung UKT, Biaya Hidup hingga Tiket Luar Negeri

Di tengah padatnya aktivitas tersebut, kebutuhan pendidikan dan biaya hidup masih menjadi hal yang harus diperhitungkan.

Silvi mengaku kebutuhan sehari-harinya masih dibantu orang tua. Karena itu, ia mencari beasiswa untuk menunjang pendidikannya hingga kemudian mengetahui informasi mengenai program Santri Penggerak.

“Saya memang lagi cari beasiswa buat pendukung pendidikan saya agar lebih semangat. Kebetulan saya juga berada di pondok pesantren,” kata Silvi.

Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban keuangan, tetapi juga menjadi dorongan bagi mahasiswa yang menjalani pendidikan di kampus sekaligus menuntut ilmu di pesantren.

“Menurut saya ini merupakan terobosan baru agar santri-santri sekaligus mahasiswa lebih semangat dalam belajar, menimba ilmu di universitas masing-masing ataupun di Ma’had Aly. Secara keuangan sangat membantu,” ujarnya.

Dalam program ini, setiap penerima memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester selama enam semester. Bantuan tersebut diharapkan membantu mahasiswa dan mahasantri melanjutkan pendidikan, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kapasitas akademik dan berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.*

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini