Semarang,Seputarjateng.id – PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) bekerja sama dengan DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah menggelar BRI x REI Expo 2026 di Queen City Mall Semarang.
Pameran properti yang dibuka Jumat(24/7) berlangsung selama 10 hari dan berakhir 2 Agustus 2026, dengan menghadirkan 16 pengembang dan berbagai promo pembiayaan rumah.
Ketua DPD REI Jawa Tengah, Harmawan Mardiyanto, mengatakan penyelenggaraan expo ini menjadi upaya memperluas akses masyarakat terhadap hunian sekaligus memperkuat pemasaran sektor properti di Jawa Tengah.
Ia menjelaskan Jawa Tengah memiliki sekitar 400 pengembang yang tersebar dari Bumiayu hingga Cepu. Karena itu, REI berencana memperluas penyelenggaraan pameran ke sejumlah kota lain seperti Pekalongan dan Tegal.
Pada pameran kali ini, REI menargetkan penjualan sekitar 50 unit rumah dari 16 pengembang yang berpartisipasi.
Regional Consumer Banking Head BRI Regional Office Semarang, Fana Santi Wijayanti, mengatakan kepemilikan rumah bukan sekadar memiliki aset, melainkan tempat tumbuh dan berkembangnya sebuah keluarga.

Ia menjelaskan sektor perumahan memiliki efek berganda terhadap perekonomian karena mampu menggerakkan jasa konstruksi, transportasi, hingga industri perlengkapan rumah tangga.
Dalam expo tersebut, BRI menawarkan berbagai promo KPR, di antaranya suku bunga mulai 1,75 persen fixed pada tahun pertama, diskon biaya administrasi, diskon provisi, hingga potongan premi asuransi.
BRI juga mencatat hingga Juni 2026 telah menyalurkan pembiayaan KPR subsidi sebanyak 2.475 unit rumah dengan nilai sekitar Rp396 miliar, sedangkan KPR komersial mencapai Rp146 miliar. Total pembiayaan properti yang telah disalurkan mencapai lebih dari Rp500 miliar.

Untuk tahun 2026, kuota KPR subsidi BRI di Jawa Tengah mencapai 7.200 unit, sehingga melalui pameran ini BRI berharap dapat mempercepat realisasi penyaluran pada semester kedua.
Wali Kota Semarang dalam sambutannya diwakili Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang Ferry Kunto Aji mengapreasi atas konsistensi REI dan BRI dalam menggelar pameran properti di Kota Semarang.
Ia mengatakan sektor properti menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi daerah karena mampu membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan berbagai sektor pendukung. Namun di balik pertumbuhan tersebut, pemerintah tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terhadap hunian yang layak.
Pemerintah Kota Semarang, lanjutnya, terus menjalankan program perbaikan rumah tidak layak huni. Tahun lalu, lebih dari 1.000 unit rumah berhasil diperbaiki, sementara pada tahun ini ditargetkan 2.500 unit rumah selesai direhabilitasi.
Selain itu, pemerintah juga berupaya mempermudah perizinan bagi para pengembang. Proses Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) kini diklaim dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit tanpa dipungut biaya.
Menanggapi keterbatasan lahan di Kota Semarang, pemerintah juga mulai mengkaji pengembangan rumah susun dengan desain yang lebih menarik agar dapat menjadi alternatif hunian bagi masyarakat di masa mendatang.
Lebih lanjut Harmawan menjawab pertanyaan mengenai pengembang bermasalah menegaskan anggota REI Jawa Tengah terus dibina melalui peningkatan kompetensi dan pengawasan organisasi. Ia menyebut sebagian besar kasus yang ramai diberitakan justru berasal dari pengembang yang tidak tergabung dalam asosiasi.
REI juga mendukung program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui sistem pengawasan terhadap pengembang serta membuka ruang koordinasi dengan masyarakat apabila ditemukan dugaan pelanggaran oleh pengembang perumahan.
Melalui sinergi antara pemerintah, perbankan, dan pengembang, penyelenggara berharap BRI x REI Expo 2026 dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak sekaligus mendorong pertumbuhan sektor properti di Jawa Tengah.(Kas)


