Temanggung, Seputarjateng.id- Berbicara tentang Pancasila tidak cukup hanya dengan menghafal lima sila. Nilai kebangsaan justru diuji ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Anggota DPR/MPR RI Wibowo Prasetyo dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kabupaten Temanggung, Minggu (20/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti lebih dari seratus peserta dari lintas komponen masyarakat.
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan itu mengatakan, Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika akan tetap relevan sepanjang nilai-nilainya dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata masyarakat.
“Kadang-kadang kita membicarakan kebangsaan dengan bahasa yang terlalu tinggi. Padahal Pancasila sebenarnya sangat dekat. Ketika ada tetangga kesulitan lalu kita membantu, ketika warga bergotong royong tanpa bertanya agama atau kelompoknya apa, ketika kepentingan bersama didahulukan daripada kepentingan pribadi, di situlah nilai Pancasila hidup,” kata Wibowo, legislator dari Dapil Jawa Tengah VI.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini juga membuat pemahaman kebangsaan harus terus diperbarui. Persoalan ekonomi keluarga, pendidikan anak, perlindungan kelompok rentan, perubahan sosial hingga derasnya arus informasi tidak dapat dipisahkan dari cita-cita bernegara.
Karena itu, Wibowo mengingatkan bahwa konstitusi bukan semata-mata kumpulan pasal mengenai tata negara. UUD NRI Tahun 1945 juga memuat cita-cita mengenai kesejahteraan, pendidikan, perlindungan warga negara, serta kehidupan yang berkeadilan.

“Artinya, mencintai Indonesia bukan hanya soal mengibarkan Merah Putih atau menyanyikan Indonesia Raya. Itu penting. Tetapi kecintaan kepada bangsa juga harus diwujudkan dengan memastikan orang-orang di sekitar kita tidak dibiarkan berjalan sendiri ketika menghadapi kesulitan,” ujarnya.
Wibowo menilai semangat tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia melalui tradisi gotong royong. Di desa-desa, warga terbiasa bekerja bersama, saling membantu ketika ada yang memiliki hajat, mengalami musibah, maupun ketika lingkungan membutuhkan kerja bersama.
Modal sosial seperti itu, menurut dia, harus dipertahankan di tengah perubahan zaman yang semakin mendorong kehidupan individualistis.

“Jangan sampai kita semakin maju teknologinya, semakin cepat komunikasinya, tetapi justru semakin jauh dengan tetangga. Jangan sampai kita tahu apa yang terjadi ribuan kilometer dari rumah melalui telepon genggam, tetapi tidak tahu bahwa tetangga sebelah sedang membutuhkan pertolongan,” katanya.
Menurut Wibowo, gotong royong bukan sekadar romantisme masa lalu. Semangat tersebut merupakan salah satu kekuatan masyarakat untuk menghadapi berbagai persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah.
Pada titik itulah, kata dia, Pancasila menemukan maknanya sebagai nilai yang bekerja di tengah masyarakat.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI memasyarakatkan empat konsensus fundamental bangsa, yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.
Wibowo mengatakan, keberagaman peserta yang berasal dari lintas komponen masyarakat juga mencerminkan kenyataan Indonesia. Masyarakat dapat memiliki latar belakang, pekerjaan, agama, organisasi maupun pandangan yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu kepentingan yang sama sebagai warga bangsa.
Menurutnya, perbedaan tersebut tidak perlu dihapus. Yang diperlukan adalah kemampuan menemukan titik temu untuk mengerjakan kepentingan bersama.
“Indonesia sejak awal bukan dibangun karena semua orang sama. Indonesia justru lahir karena orang-orang yang berbeda sepakat mempunyai rumah bersama. Rumah itu harus kita jaga, tetapi juga harus kita pastikan nyaman dan memberikan harapan bagi seluruh penghuninya,” ujar Wibowo.
Karena itu, ia berharap Sosialisasi Empat Pilar tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Nilai-nilai yang dibicarakan harus dibawa pulang dan diterjemahkan melalui lingkungan keluarga, masyarakat, organisasi, tempat kerja, maupun kehidupan sosial masing-masing.
“Bagi saya, ukuran paling sederhana dari kuatnya kebangsaan adalah apakah kita masih peduli kepada sesama. Sebab Indonesia yang kuat bukan hanya Indonesia yang wilayahnya tetap utuh, tetapi Indonesia yang rakyatnya merasa menjadi bagian dari satu sama lain,” pungkas Wibowo.(***)


