Gentengisasi Jateng Disiapkan, 1,1 Juta Keping Jadi Pasar IKM

Berita Rekomendasi


SEMARANG
– Program gentengisasi di Jawa Tengah mulai dimatangkan dengan kebutuhan awal sekitar 1,1 juta keping genteng. Bukan hanya untuk menopang program perumahan, kebijakan ini diproyeksikan membuka pasar baru bagi industri kecil dan menengah (IKM) genteng lokal sekaligus menggerakkan rantai ekonomi dari produksi, angkutan hingga toko bangunan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta pelaksanaan program yang menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) tersebut disiapkan secara realistis dengan memperhitungkan kemampuan produksi, distribusi, dan pembiayaan. Program Genteng Jawa Tengah sedianya diluncurkan akhir November 2026.

Hal itu disampaikan Ahmad Luthfi dalam rapat pembahasan program gentengisasi bersama jajaran Pemprov Jateng di ruang kerja gubernur, Rabu (7/10/2026).

Luthfi meminta kebutuhan genteng pada tahap awal disesuaikan dengan kemampuan produksi industri lokal. Dalam pembahasan, muncul opsi pemenuhan sekitar 600 ribu keping terlebih dahulu, sedangkan kebutuhan berikutnya dipenuhi secara bertahap. Selain proyek pemerintah, Luthfi juga meminta peluang keterlibatan pengembang perumahan dikaji.

“Langkah ini dapat memperluas pasar genteng produksi Jawa Tengah, sekaligus mendorong penggunaan produk lokal dalam pembangunan perumahan,” ungkap Luthfi, yang memimpin Jateng bersama wagub Taj Yasin.

Baca Juga:  PLN UPT Salatiga Mantapkan Keandalan Sistem Jawa Tengah dengan Energize Uprating 150 kV Banyudono–Jajar 1

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmy, mengatakan, besarnya kebutuhan genteng dari berbagai program pemerintah dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.

“Kalau potensi ekonomi, pasti ini akan memberikan multiplier effect. Mulai dari UKM-nya sendiri, kemudian angkutan, kemudian toko-tokonya, semua bergerak,” katanya seusai rapat.

Menurut dia, peluang tersebut sekaligus menjadi momentum bagi IKM genteng untuk meningkatkan kapasitas produksi. Namun, pemerintah perlu mengantisipasi potensi persoalan apabila permintaan dalam jumlah besar muncul pada waktu yang bersamaan.

“Cuma yang menjadi kendala ini kan karena permintaan itu dalam waktu yang sama. Program pemerintah itu bersamaan,” ujarnya.

Besarnya pasar terlihat dari kebutuhan genteng untuk sejumlah program perumahan. Pada Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 2025, sebanyak 3.257 dari 7.532 unit rumah menggunakan genteng sebagai penutup atap.

Sementara pada Program Bedah Rumah 2026, kebutuhan genteng diperkirakan mencapai sekitar 4,7 juta keping.

Baca Juga:  Rombak Direksi, Sido Muncul Siapkan Regenerasi Kepemimpinan

Potensi tersebut diperkuat dengan keberadaan industri genteng lokal. Berdasarkan identifikasi Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Jawa III, terdapat 21 produsen atau unit usaha genteng tanah liat yang tersebar di Banyumas, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Jepara, Grobogan, Sukoharjo, dan Kabupaten Magelang.

Pemprov Jateng kini menyiapkan peningkatan kualitas dan kapasitas produksi IKM tersebut. Upayanya antara lain melalui pengujian mutu, pendampingan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), serta peningkatan kapasitas produksi.

Untuk 21 IKM tersebut, kebutuhan pengujian mutu diperkirakan mencapai Rp 20,58 juta, sedangkan sertifikasi SNI membutuhkan Rp 220,5 juta. Total kebutuhan pembiayaan mencapai Rp 241,08 juta.

Bank Jateng telah menyatakan dukungan terhadap pembiayaan tersebut.

Dengan standardisasi dan peningkatan kapasitas itu, genteng lokal tidak hanya diharapkan mampu memenuhi kebutuhan program pemerintah, tetapi juga memiliki daya saing lebih kuat untuk masuk ke pasar perumahan yang lebih luas.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, mengatakan, program gentengisasi akan disinergikan dengan Program Tiga Juta Rumah.

Baca Juga:  Peningkatan Layanan Pajak, KPP Pratama Jepara Siapkan Inovasi Baru

“Tentu saja kita pemerintah daerah dan seluruh elemen sektoral akan mendukung program Pak Presiden tentang Gerakan ASRI, yaitu gentengisasi, juga akan disinergikan dengan Program Tiga Juta Rumah,” katanya.

Pada tahap awal, pemanfaatan genteng lokal diarahkan untuk proyek bedah rumah pemerintah. Selanjutnya, Pemprov Jateng akan memperluas keterlibatan sektor swasta, khususnya pengembang perumahan.

“Kami akan mencoba, barangkali ada pengembang atau developer yang kita dorong untuk ikut juga mendukung program gentengisasi ini dengan memanfaatkan genteng pada proyek-proyek perumahan mereka,” ujarnya.

Program Genteng Jawa Tengah direncanakan diluncurkan pada akhir November 2026. Kebutuhan awal diperkirakan mencapai sekitar 1,1 juta keping genteng.

Jika terealisasi, program tersebut tidak hanya mengubah wajah rumah melalui penggunaan genteng lokal, tetapi juga berpotensi menciptakan perputaran ekonomi baru di daerah-daerah sentra produksi, dari perajin dan IKM, pekerja angkutan, hingga pelaku usaha toko bangunan.***

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini