Semarang,Seputarjateng id —
Semangat regenerasi seni tari nasional terasa kuat dalam gelaran iForte National Dance Competition (NDC) “Inspirasi Diri” 2025–2026. Babak Kurasi Offline Semarang yang berlangsung Sabtu (14/2/2026) sore di The Park Semarang menjadi saksi lahirnya karya-karya penuh makna dari generasi muda berbagai daerah di Indonesia.
Kompetisi yang digelar oleh iForte bersama Protelindo Group ini terbuka bagi pelajar SMA/SMK sederajat dan mahasiswa. Tahun ini, antusiasme peserta melonjak signifikan dengan 710 pendaftar dari 227 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Head of Marketing Communication iForte, Viktor Sihombing, menegaskan NDC bukan sekadar ajang lomba, melainkan ruang pembinaan dan pengembangan karakter generasi muda melalui seni tari. Menurutnya, kompetisi ini dirancang sebagai wadah regenerasi seni tari nasional sekaligus ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan diri dan bertumbuh.
Hal senada disampaikan Head of Area Jawa Tengah 1 iForte, Renard Djunaidi. Dari ratusan pendaftar, terpilih 18 grup semifinalis pada Kurasi Offline Semarang, terdiri atas 10 grup SMA/SMK dan 8 grup perguruan tinggi. Setiap tim menampilkan dua koreografi, yakni satu menggunakan lagu “Inspirasi Diri” dan satu lagu bebas. Tiga juara dari setiap regional akan dipilih, dan juara pertama melaju ke grand final di Jakarta.
Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp100 juta, berupa uang pembinaan bagi juara 1, 2, dan 3 tingkat nasional, beasiswa untuk tiga juara utama , serta hadiah logam mulia.
Penilaian meliputi tiga aspek utama, yakni delivery atau penyampaian biografi, konsep penampilan, serta wardrobe atau kostum yang mendukung keseluruhan karya.
Di kategori SMA/SMK, grup SPOTS dari SMA Cita Hati East Campus Surabaya meraih juara pertama setelah memukau dewan juri.
Selama dua bulan, tim ini menyiapkan tarian yang mengangkat kisah pertemuan seorang nelayan dengan anak-anak sekolah sebagai simbol kesetaraan dan kebersamaan. Kapten tim, Sidney, mengaku bangga atas pencapaian tersebut dan menyebut proses latihan mengajarkan mereka pentingnya kerja sama serta kemampuan membagi waktu antara akademik dan latihan intensif.

Pada kategori perguruan tinggi, grup Anvesha dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta tampil kuat dengan konsep bertema “entitas” dan keluar sebagai juara pertama. Koreografi mereka merefleksikan kehidupan sebelum kehadiran manusia sekaligus menjadi kritik terhadap kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Perwakilan tim, Putra, menyebut karya itu lahir dari keprihatinan terhadap isu lingkungan, termasuk bencana banjir.
Meski para anggota berasal dari latar belakang daerah dan karakter gerak yang berbeda, proses kreatif selama tiga bulan menjadi ruang untuk menyatukan visi artistik.
Melalui NDC “Inspirasi Diri”, panggung tari tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang dialog, refleksi, dan pembentukan karakter. Dari Semarang, semangat regenerasi seni tari nasional kembali menyala melalui karya generasi muda yang berani bersuara lewat gerak.(All)


