Semarang,Seputarjateng id– Tawa ceria bagi anak yang duduk atau berdiri di depan setang sepeda motor masih sering terlihat di jalan raya, terutama selama liburan sekolah. Pemandangan yang dianggap biasa oleh sebagian masyarakat ini ternyata menyimpan risiko besar yang dapat mengancam keselamatan anak.
Saat musim liburan, banyak keluarga memilih sepeda motor sebagai sarana transportasi untuk berwisata atau mengunjungi sanak saudara. Tidak jarang satu sepeda motor ditumpangi lebih dari dua orang. Anak kecil ditempatkan di depan pengendara, sementara anggota keluarga lainnya duduk di belakang. Praktik ini dianggap praktis, namun sesungguhnya sangat berbahaya.
Dalam kondisi darurat, seperti pengereman mendadak atau tabrakan frontal, anak yang berada di depan menjadi pihak yang paling rentan mengalami cedera serius. Tubuh kecil mereka dapat terjepit di antara setang kemudi dan tubuh pengendara yang terdorong ke depan akibat benturan. Posisi yang terlihat aman justru dapat berubah menjadi titik paling berisiko dalam hitungan detik.
Bahaya lainnya yang kerap luput dari perhatian adalah perilaku alami anak-anak yang gemar meniru orang dewasa. Saat berada di depan setang, anak sering tanpa sadar berimajinasi seolah-olah sedang mengendarai sepeda motor. Tangan mungil mereka dapat memegang bahkan memainkan tuas gas tanpa disadari orang tua.
Dalam sejumlah kasus kecelakaan, gerakan spontan anak yang memutar gas membuat sepeda motor mendadak melaju lebih cepat. Pengendara yang terkejut sering kali kehilangan kendali karena posisi anak berada tepat di antara tubuh dan setang. Dalam situasi seperti itu, ruang gerak pengendara menjadi terbatas sehingga sulit mengendalikan kendaraan. Akibatnya, benturan keras dengan kendaraan di depan atau objek lain di jalan kerap tidak dapat dihindari.
Keberadaan anak di depan juga mengurangi ruang gerak pengendara saat mengendalikan setang. Ketika harus menghindari lubang, kendaraan lain, atau melakukan manuver mendadak, gerakan kemudi menjadi tidak leluasa sehingga meningkatkan potensi kecelakaan.

Selain itu, anak yang berada di bagian depan sepeda motor menerima paparan langsung debu, angin, serta asap kendaraan selama perjalanan. Kondisi tersebut dapat memicu kelelahan, dehidrasi, hingga gangguan saluran pernapasan, terutama saat perjalanan jarak jauh.
Para instruktur keselamatan berkendara mengingatkan bahwa anak bukanlah penumpang yang dapat diperlakukan sama dengan orang dewasa. Struktur tulang yang masih berkembang, kekuatan fisik yang belum sempurna, dan kemampuan refleks yang terbatas membuat mereka jauh lebih rentan terhadap cedera saat terjadi kecelakaan.
Karena itu, anak sebaiknya selalu duduk di jok belakang dengan posisi yang aman. Kakinya harus sudah mampu mencapai pijakan kaki, mengenakan helm berstandar SNI sesuai ukuran, serta mampu berpegangan atau memeluk pengendara dengan baik selama perjalanan.

“Liburan sekolah seharusnya menjadi momen untuk menciptakan kenangan indah bersama keluarga. Karena itu, selalu utamakan keselamatan saat berkendara. Jangan sampai keceriaan liburan berubah menjadi penyesalan akibat mengabaikan aspek keselamatan, terutama saat membawa anak,” pesan Oke Desiyanto, Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng.
Disebutkan, keselamatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan. Kenyamanan dan kepraktisan sesaat tidak sebanding dengan risiko yang harus ditanggung apabila terjadi kecelakaan di jalan raya. Sebab bagi seorang anak, posisi di depan setang bukanlah tempat terbaik untuk menikmati perjalanan, melainkan titik paling berbahaya ketika bahaya datang tanpa peringatan.(All)


