Kendal,Seputarjateng.id – Arfaiasa(12) masih ingat ketika pertama kali masuk SMK Harapan Mulya Kendal. Mengganti oli sepeda motor saja ia belum bisa.
Kini, siswa kelas 10 jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) itu sudah berani membongkar mesin kendaraan roda dua. Pengalaman tersebut ia dapatkan dari pembelajaran praktik di Bengkel Speed Karya melalui program Enduro Home Service (EHS).
“Dulu pertama saya masuk sekolah SMK mengganti oli mesin saja tidak bisa, tapi sekarang saya malah bisa bongkar-bongkar mesin kendaraan,” kata Arfaiasa saat ditemui dalam kegiatan media visit, Rabu (16/9/2026).
Bagi Arfaiasa, bengkel sekolah bukan sekadar tempat belajar memperbaiki sepeda motor. Di sana ia dan teman-temannya juga belajar berhadapan langsung dengan pelanggan.
Mulai dari menyambut konsumen, menanyakan keluhan kendaraan, mencatat pekerjaan dalam surat perintah kerja (SPK), hingga melakukan servis menjadi pengalaman sehari-hari para siswa.
Kepala Jurusan TSM sekaligus Kepala Bengkel, Agus Wuryanto, mengatakan siswa diajarkan tidak hanya soal mesin,tapi juga dikenalkan pelumas, suku cadang, dan pengelolaan bisnis bengkel.
“Anak-anak kami pompa skill-nya supaya lebih cepat mengimbangi kebutuhan di dunia industri,” katanya.
Kepala SMK Harapan Mulya, Rika Imaniarti, mengatakan program EHS membuat pembelajaran siswa semakin dekat dengan kondisi dunia kerja.

“Program ini lebih menekankan kepada kewirausahaan. Jadi anak-anak tidak hanya disiapkan untuk bekerja, tetapi juga bagaimana mereka bisa berwirausaha,” ujarnya.
Bengkel Speed Karya yang dikelola bersama dalam program tersebut bahkan melayani masyarakat umum. Dari aktivitas itu, siswa bisa melihat langsung bagaimana sebuah bengkel dijalankan.
Omzet bengkel yang mulai beroperasi pada 2022 itu juga terus berkembang. Dari sekitar Rp12 juta pada awal beroperasi, omzet sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai sekitar Rp102 juta.

Pengalaman tersebut rupanya ikut mengubah cara siswa memandang masa depan. Nabris, siswa kelas 11 TSM, kini memiliki keinginan membuka bengkel sendiri setelah lulus.
“Saya ingin punya usaha bengkel sendiri untuk masyarakat,” katanya.
Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants, Rika Gresia, mengatakan EHS saat ini telah membina 53 SMK di Indonesia. Siswa tidak hanya mendapatkan keterampilan mekanik, tetapi juga pengalaman menghadapi konsumen dan mengelola usaha.
Pertamina Lubricants bahkan menyiapkan dukungan bagi lulusan yang ingin membuka usaha, mulai dari toolkit, branding, etalase hingga produk pelumas sebagai starter kit.
Bagi Arfaiasa dan teman-temannya, pengalaman di bengkel sekolah itu menjadi lebih dari sekadar pelajaran praktik. Dari tangan yang awalnya belum mampu mengganti oli, kini mereka mulai belajar menjadi mekanik sekaligus mengenal bagaimana membangun usaha sendiri.(AK)


