Banjir Impor Produksi Jadi Membuat Industri TPT Indonesia Hadapi Tantangan Berat

Berita Rekomendasi

Semarang, Seputarjateng. id-Kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan berat akibat banjirnya impor produk jadi dan lemahnya regulasi perlindungan industri padat karya,. Meski demikian pelaku usaha tetap optimis terhadap pertumbuhan industri TPT tahun ini.

Optimisme ini disampaikan ketua APINDO kota Semarang Dedi Mulyadi di Kantornya , Senin (24/3/2025). Hal ini dikarenakan kondisi serupa juga dialami oleh beberapa negara lainnya.

“Situasi yang dihadapi Indonesia saat ini juga terjadi di negara-negara lain. Namun, dengan kolaborasi dan strategi yang tepat, kita optimis industri TPT nasional akan kembali membaik,” ujarnya.

Menurut Dedi, negara-negara produsen tekstil dan garmen lainnya berjuang keras menyesuaikan regulasi mereka agar tetap kompetitif secara global. Indonesia juga harus terus berbenah untuk menjaga industri padat karya ini agar dapat menyerap tenaga kerja yang terus bertambah setiap tahunny.

Baca Juga:  Resmikan Kecamatan Berdaya di Pedurungan, Gus Yasin: Ruang Kreatif dan Perlindungan Kelompok Rentan

“Adaptasi dan kolaborasi pengusahadan penerintah sangat dibutuhkan agar industri TPT tetap tumbuh dan bisa bertahan, misalnya masalah perijinan dan lainnya,” ungkapnya.

Menurut Dedi tumbangnya raksasa garmen di Indonesia, menjadi pelajaran bagi para pengusaha untuk bisa menyiasati kondisi perekonomian di dalam negeri saat ini. Tujuannya, agar usaha yang telah dilakoni selama belasan atau puluhan tahun itu tetap bertahan dan berkembang.

“Saat ini, para pengusaha harus mampu adaptif terhadap kondisi perekonomian yang tidak menentu atau tidak stabil,” katanya, Senin(24/3,2025)saat ditemui di tempat usahanya di Kawasan Industri Wijayakusuma, Semarang.

Baca Juga:  Wagub Jateng Resmikan Rumah Singgah PGOT, Fokus Rehabilitasi Sosial

Menurut Dedi, situasi dan kondisi ekonomi saat ini memaksa banyak pengusaha harus mampu bertahan di tengah banyaknya hantaman produk impor sejumlah sektor. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya gulung tikar dan harus merumahkan para pekerjanya.

Dedi menjelaskan, ada beberapa perusahaan yang sudah memiliki nama besar harus tumbang karena tekanan ekonomi yang tidak tidak menentu sekarang. Oleh karena itu, para pengusaha harus dituntut bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini untuk bisa memertahankan usahanya dan tidak merumahkan pekerjanya.

“Adaptasi yang bisa dilakukan, salah satu caranya dengan merelokasi industri yang sudah tidak bisa dipertahankan di daerah sebelumnya. Kalau mau jalan terus ya harus ada efisiensi,” kata Dedi.

Baca Juga:  Polri Siagakan Ambulance Udara Hadapi Kemungkinan Situasi Genteng Saat Arus Mudik,

Lebih lanjut Dedi menjelaskan, para pengusaha tidak hanya mampu membaca peluang pasar saja tetapi juga mampu beradaptasi dengan keadaan ekonomi saat ini.

Dedi menyebut, industri padat karya selama ini masih menjadi salah satu penopang perekonomian di dalam negeri karena mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak.

“Saya rasa, di Jawa Tengah ini industri padat karya masih dibutuhkan. Makanya banyak yang pindah ke Jawa Tengah, kayak industri sepatu dan rokok”,
demikian Dedi Mulyadi.(All)

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini