Pemprov Jateng dan Kedungsepur Perkuat Sinergi Bangun Wisata Berkesinambungan

Berita Rekomendasi


GROBOGAN
 – Pemerintah kabupaten/kota di wilayah Kedungsepur sepakat untuk menyamakan persepsi dalam rangka mewujudkan tema pembangunan Jawa Tengah tahun 2027. Yakni “Mengembangkan Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Syariah sebagai Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi”.

Forum tersebut dibahas dalam Rembug di Pendopo Kabupaten Grobogan, Jumat, 29 Mei 2026.

Dihadiri Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin).

Hadir kepala daerah di wilayah Kedungsepur meliputi Kabupaten Kendal, Demak, Semarang, Kota Semarang dan Kabupaten Grobogan.


Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan, Kendal sudah menetapkan kebijakan Kendal Cekatan di Tahun 2027dan siap mensinkronkan dengan arah kebijakan provinsi di tahun 2027. Sejumlah program prioritas Kendal tahun 2027 siap untuk mendukung program pariwisata berkelanjutan yang menjadi tema Provinsi Jateng.

Sedangkan Bupati Demak Eisti’anah menyatakan pemerintah Kabupaten Demak akan terus men-support dan menyukseskan target dari Pemprov Jateng untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Di antaranya, Pemkab Demak siap melatih 15 konten kreator. Pelatihan bahkan sudah dilakukan di tahun ini dengan peserta sebanyak 12 orang.

“Kabupaten Demak juga siap mendukung penetapan lima usaha pariwisata ramah muslim di lima tempat. Target selanjutnya yaitu menetapkan produk yang tersertifikasi halal,” ujarnya.

Baca Juga:  Benih Bermutu, Panen Optimal: Syngenta Resmikan Laboratorium Karantina Tumbuhan di Indonesia

Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan, Kabupaten Semarang mengembangkan pariwisata yang mengakomodasi wilayah Borobudur, Solo, Kopeng, dan Rawapening. Dalam rangkan mendukung wisata ramah muslim, Pemkab Kabupaten Semarang juga sudah mempersiapkan empat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang bersertifikat halal.

Wali Kota Salatiga Robby Hernawan yang diwakili Sekda Muthoin, menyampaikan, tema Kota Salatiga tahun 2027 adalah pengembangan pariwisata dan ekosistem ekonomi kreatif yang didukung dengan sumber daya manusia yang unggul. Untuk mendukung hal tersebut, Pemkot Salatiga sudah menyerahkan lahan sekitar 17.000 m2 yang digunakan untuk exit tol Taman Sari atau yang terkenal dengan Patimura.

“Harapan kami menjadi suatu kawasan pertumbuhan untuk pertumbuhan pariwisata dan perdagangan di kawasan tersebut,” ujarnya.

Selain itu Salatiga juga dikenal sebagai kota paling toleran di Indonesia. Banyak tamu dari manca negara datang ke Salatiga untuk belajar tentang toleransi. Pihaknya berkomitmen untuk mengembagkan wajah kota, budaya dan paket pariwisata di Kota Salatiga.

“Yang tidak kalah pentingnya barangkali lain lain dari yang lain adalah kami mengembangkan Jarkom Mabar, yaitu Jaringan Komunitas Mahasiswa dan Anak Muda Berwirausaha,” ujarnya.

Baca Juga:  Mama Mertua Luncurkan Tumpeng 1 Meter Pertama di Semarang, Bisa Dipesan Dadakan

Sedangkan tuan rumah, Bupati Grobogan Setyo Hadi mengatakan, kendati masih banyak PR dalam pembangunan yang harus ditangani, pihaknya siap mendukung terwujudnya tema pembangunan Provinsi Jawa Tengah di tahun 2027. Yaitu mengembangkan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai tulang punggung bertumbuh ekonomi.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno memberikan apresiasi atas dukungan yang disampaikan pemda di Kedungsepur. Dia memberikan pesan penting agar pemda juga menyamakan persepsi dalam mengatasi persoalan lingkungan, dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan.

Usai acara, Sumarno, menjelaskan, rembug pembangunan merupakan tindak lanjut dari Musrenbang yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Usulan kabupaten/kota sudah masuk melalui aplikasi. Sehingga, pertemuan tersebut merupakan wahana untuk menyamakan persepsi dengan pemerintah kabupaten/kota mengenai langkah yang akan dilaksanakan pada tahun 2027.

“Hari ini kita menyamakan persepsi apa yang akan kita lakukan di tahun 2027,” jelasnya.

Rembug Pembangunan, lanjutnya, membahas tema terkait dengan pariwisata dan ekonomi syariah. Berkenaan dengan pariwisata berkelanjutan, yang berarti bersinggungan dengan masalah lingkungan. Permasalahan yang dihadapi adalah mencari solusi akibat kerusakan lingkungan, utamanya soal banjir.

“Ini kita sudah kumpul dari teman-teman yang ada di Pantura dan juga ada yang di tengah seperti Kabupaten Semarang, Kendal, daerah-daerah tangkapan. Kami berharap dengan diskusi ini akan menjadi penyamaan persepsi. Bagaimana nanti langkah yang akan dilakukan di daerah hulu, di daerah hilir seperti apa sehingga kondisi lingkungan kita ini bisa dijaga dengan baik,” kata Sumarno.

Baca Juga:  Lebih dari 1000 Paket Sembako Disalurkan DAIKIN Melalui Program Roda-Roda Ramadan

Sumarno berpesan kepada peserta Rembug Pembangunan agar memandang masalah kerusakan lingkungan dari pendekatan agama. Bahwa merusak lingkungan, membuang sampah sembarangan, merupakan dosa karena membuat orang lain menderita.
“Hari ini saya minta tolong ke teman-teman dari kabupaten/ kota agar meminta tokoh-tokoh agama, dan bersama-sama memunculkan kepedulian kepada lingkungan,” tegasnya.

Sumarno juga memberikan apresiasi kepada daerah yang mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, yaitu Kendal dan Demak. Kabupaten Kendal bahkan mencapai peringkat tertinggi di Jawa Tengah dengan angka 7,99%.

“Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah ini bukan provinsi sendiri karena provinsi adalah agregat dari teman-teman Kabupaten Kota. Jadi kami terima kasih sekali dan itulah bentuk dari kita kumpul seperti ini adalah kita bagaimana menyamakan persepsi, berkolaborasi supaya tadi capaian-capaian kinerja utama itu bisa sama-sama ekseleratif. Karena ekseleratifnya Kabupaten Kota itu adalah ekseleratifnya juga provinsi,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini