Hadapi Tantangan AI dan Bonus Demografi, Empat Pilar Harus Jadi Way of Life

Berita Rekomendasi

MAGELANG, SEPUTARJATENG.ID – Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, mengajak para pemuda Kabupaten Magelang untuk menjadikan Empat Pilar Kebangsaan sebagai pedoman menghadapi berbagai tantangan masa depan yang semakin kompleks.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar Wibowo Prasetyo bekerja sama dengan DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Magelang, Minggu (21/6/2026).

Dalam pemaparannya di depan seratusan anak muda, Wibowo menegaskan bahwa tantangan generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Menurutnya, ancaman terbesar bukan lagi sekadar konflik horizontal yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, tapi juga datang dari perkembangan teknologi digital yang bergerak sangat cepat.

“Tantangan masa depan jauh lebih besar, lebih kompleks, dan berubah sangat cepat. Dulu kita tidak membayangkan ada artificial intelligence atau AI. Hari ini teknologi itu bisa menjadi anugerah, tetapi juga bisa menjadi malapetaka jika tidak digunakan secara bijak,” kata Wibowo.

Ia mencontohkan maraknya penyalahgunaan teknologi seperti deepfake, penyebaran hoaks, hingga fitnah yang dapat diproduksi hanya dari sebuah kamar kos berukuran kecil.

Baca Juga:  Percepat Capaian Sanitasi Aman, Bappeda Gandeng Baznas dan Forum TJSLP

“Di era sekarang, seseorang bisa menciptakan informasi palsu yang mencelakakan orang lain bahkan bangsa dan negara hanya melalui perangkat digital yang ada di tangannya. Ini menjadi tantangan serius yang harus kita hadapi bersama,” ujar legislator dari Dapil Jawa Tengah VI ini.

Selain perkembangan AI, Wibowo juga menyoroti fenomena algoritma media sosial yang secara tidak langsung membentuk cara berpikir masyarakat. Menurutnya, kehidupan masyarakat saat ini semakin dipengaruhi oleh mesin dan algoritma yang menentukan konten apa yang dilihat setiap hari.

“Hidup kita hari ini banyak dipengaruhi algoritma. Apa yang kita sukai akan terus disajikan oleh mesin. Karena itu kita harus memiliki pegangan nilai agar tidak kehilangan arah,” katanya.

Oleh sebab itu, Wibowo menjelaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap sangat relevan di tengah era digital.

Menurutnya, Empat Pilar bukan sekadar materi hafalan, melainkan cara berpikir, cara bertindak, sekaligus cara hidup bangsa Indonesia.

Baca Juga:  Balamuda Banyumas Raya Doa Bersama Santri

“Empat Pilar bukan hanya pengetahuan, tetapi way of thinking, way of acting, bahkan way of life. Semua nilai kehidupan bangsa Indonesia ada di dalamnya. Kalau kita meninggalkan Empat Pilar, kita akan kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman,” tegasnya.

Ia menyebut Pancasila sebagai kompas moral bangsa yang menjadi pedoman dalam menghadapi revolusi teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat. Sementara UUD 1945 menjadi dasar hukum yang memastikan kebebasan berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Sedangkan Bhinneka Tunggal Ika, lanjutnya, mengajarkan pentingnya persatuan di tengah keberagaman yang menjadi karakter utama bangsa Indonesia. Dan NKRI, jelasnya, adalah rumah besar bangsa Indonesia.

“Ketika generasi muda tidak lagi peduli terhadap bangsanya, maka sesungguhnya ancaman terhadap NKRI sedang dimulai,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wibowo juga mengingatkan bahwa Indonesia sedang menuju bonus demografi 2045. Jika tidak dikelola dengan baik, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.

“Generasi muda hari ini akan menentukan masa depan Indonesia. Karena itu pemuda harus menjadi pelaku perubahan, bukan korban perubahan,” katanya.

Baca Juga:  Patuhi Perintah Prabowo, KSB DPC dan Anggota DPRD Gerindra se-Jateng Solid Dukung Luthfi-Yasin

Sementara itu, Ketua DPD KNPI Kabupaten Magelang Arief Budianto menegaskan bahwa sejarah Indonesia selalu menunjukkan peran penting pemuda dalam setiap momentum perubahan bangsa.Ia mengingatkan bahwa mulai dari Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, gerakan mahasiswa 1966, hingga Reformasi 1998, semuanya tidak lepas dari kontribusi generasi muda.

“Peran pemuda hari ini adalah menjaga persatuan, menghindari perpecahan, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat. Mahasiswa harus dekat dengan rakyat, jangan menjauh dari lingkungan hanya karena merasa lebih berpendidikan. Jadilah mahasiswa yang kreatif, inovatif, dan migunani bagi masyarakat,” ujar Arif.

Ia juga mengajak para pemuda untuk memanfaatkan jaringan, pengetahuan, dan teknologi yang dimiliki untuk menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Menutup sosialisasi Wibowo kembali mengingatkan, melalui kegiatan ini, para peserta diajak memahami bahwa nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan tetap menjadi fondasi penting dalam menghadapi berbagai tantangan baru, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan, polarisasi digital, penyebaran hoaks, hingga persaingan global menuju Indonesia Emas 2045.(**)

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini