Aktivis Jerman Ungkap Tantangan Kuliah di Eropa, Santri Diminta Siapkan Diri

Berita Rekomendasi


MAGELANG
– Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan FISIP UNDIP, kerjasama SMA SWIIS (Syubbanul Wathon Integrated Islamic School) Magelang, mengadakan
kegiatan International Community Services, bertajuk “Strengthening the Role of Santri in the SDGs: Quality Education and Partnership for the Goals”, Kamis 15 Oktober 2026.

Kegiatan World Class University (WCU) ini bertujuan memperkuat peran santri dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan berkualitas dan kemitraan internasional.

Kegiatan ini dilatarbelakangi pentingnya peran santri dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Juga perlunya memperluas akses dan kesempatan bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Melalui kegiatan ini, santri didorong untuk mengenali peluang pendidikan, beasiswa, serta pengalaman akademik internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Acara dihadiri ratusan santri SWIIS.

Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran santri mengenai pentingnya pendidikan tinggi, memperluas wawasan, tantangan dan peluang studi di luar negeri. Serta membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pesantren, dan mitra internasional.

Melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada santri untuk merencanakan masa depan pendidikan mereka secara lebih terarah.

Inisiatif ini juga menegaskan pentingnya dukungan lingkungan pendidikan, orang tua, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membuka akses pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas.

Saat sesi berbagi pengalaman, Selin Aydin yang merupakan Akivis Peremuan sekaligus staf Parlemen di Berlin dari Jerman, menyampaikan kesan positifnya ketika mengenal budaya dan berinteraksi langsung dengan lingkungan santri di Indonesia.

Baca Juga:  Nawal Yasin Ingatkan Bahaya Ekspektasi Berlebih terhadap Kesehatan Mental Anak

Ia juga berbagi pengalaman mengenai kehidupan dan pendidikan di Jerman, termasuk tantangan yang dihadapi umat Muslim sebagai kelompok minoritas.

Menurutnya, santri yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Jerman perlu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh
Terutama dalam aspek akademik dan penguasaan bahasa Jerman sebagai bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selin turut menjelaskan bahwa umat Muslim di Jerman menghadapi tantangan sosial. Termasuk sentimen negatif yang menguat pasca-peristiwa 11 September 2001.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa studi di luar negeri tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik. Tetapi juga kesiapan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang berbeda.

Bangkit Wiryawan, alumni yang menempuh pendidikan di Jepang, menekankan pentingnya kedisiplinan dan persiapan matang sebagai bekal menjalani kehidupan akademik di luar negeri.

Menurutnya, calon mahasiswa perlu memiliki perencanaan yang jelas. Mulai dari tujuan pendidikan, kebutuhan hidup, hingga kesiapan menghadapi budaya setempat.

Ia juga memberikan gambaran praktis mengenai kehidupan Muslim di Jepang. Mahasiswa Muslim dapat menemukan pilihan makanan halal melalui pasar atau toko khusus, memilih ikan sebagai alternatif makanan, serta menanyakan kebutuhan halal kepada penjual.

Untuk menjalankan ibadah, mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas prayer room atau masjid yang tersedia di berbagai tempat.

Baca Juga:  Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Dorong Mahasiswa Baru USM Jadi Pemimpin Masa Depan

Bangkit menjelaskan masjid di Jepang tidak selalu memiliki bentuk arsitektur berkubah seperti yang umum dijumpai di Indonesia.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa dengan persiapan yang baik dan kemauan untuk beradaptasi, perbedaan budaya tidak harus menjadi penghalang untuk meraih pendidikan berkualitas.

Sementara itu, Faiz Kasyfilham, alumni yang menempuh pendidikan di Turki, memperkenalkan Turki sebagai negara yang menghubungkan Eropa dan Asia serta memiliki kekayaan budaya, kuliner, dan situs bersejarah.

Ia menjelaskan kesempatan melanjutkan pendidikan di Turki terbuka melalui berbagai skema beasiswa. Baik yang didanai pemerintah Turki maupun lembaga internasional dan program pendanaan dari Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Turki juga menawarkan lingkungan yang relatif akrab bagi santri dalam menjalankan kehidupan keagamaan sehari-hari.

Faiz menyoroti kuatnya tradisi ziarah dan penghormatan kepada para wali di Turki, yang memiliki kemiripan dengan tradisi menghormati wali, kiai, dan guru dalam kehidupan masyarakat pesantren di Indonesia.

Kedekatan budaya tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membantu santri beradaptasi sekaligus memperkaya pengalaman mereka selama menempuh pendidikan di luar negeri.

Pendidikan berkualitas merupakan salah satu fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya akses pendidikan yang inklusif, setara, dan bermutu serta kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang.

Baca Juga:  Nutrifood Cetak 346 Guru PJOK Penggerak Budaya Hidup Sehat di Sekolah

Santri memiliki modal kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena terbiasa menjalani proses pembelajaran yang disiplin, mendalami ilmu pengetahuan dan keagamaan, serta membangun karakter melalui kehidupan di pondok pesantren.

Potensi tersebut perlu didukung dengan informasi yang memadai mengenai perguruan tinggi, persiapan akademik, penguasaan bahasa asing, pendampingan, dan akses beasiswa agar kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas dapat dijangkau lebih luas.

Lebih dari sekadar kesempatan untuk belajar di luar negeri, pendidikan internasional dapat menjadi jalan bagi santri untuk memperluas wawasan, mengembangkan kompetensi, serta memperoleh pengalaman lintas budaya yang bermanfaat bagi masyarakat. Semangat ini sejalan dengan SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menekankan pentingnya kerja sama dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pesantren, keluarga, dan mitra internasional diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang pendidikan bagi santri dari berbagai latar belakang.

Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh, santri diharapkan mampu kembali berkontribusi bagi Indonesia, mengembangkan potensi komunitasnya, serta menjadi bagian dari generasi yang membawa perubahan positif.

Melalui kegiatan International Community Services ini, santri diajak untuk tidak membatasi cita-cita pada lingkungan yang telah dikenal, tetapi berani melangkah lebih jauh demi memperoleh ilmu dan pengalaman yang kelak dapat diabdikan bagi kemajuan bangsa.*

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini