SEMARANG – Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (FORDEKIIS) menyiapkan pengembangan mata kuliah bersama bagi mahasiswa ilmu sosial di sekitar 76 fakultas perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia.
Program tersebut dibahas dalam pertemuan FORDEKIIS di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, pada 23–25 Oktober 2026. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat kerja sama antarkampus.
Dekan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM), Wawan Mas’udi, mengatakan, pembelajaran bersama menjadi salah satu langkah untuk memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan ilmu sosial di berbagai perguruan tinggi.
“Tujuannya untuk membangun komunikasi antarfakultas dan antaruniversitas, sekaligus mendekatkan kualitas pengajaran, pendidikan, dan riset untuk ilmuwan sosial di Indonesia,” ujar Wawan, Sabtu (24/10/2026).
Materi pembelajaran yang disiapkan mencakup berbagai isu strategis, antara lain transformasi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Penguatan keterampilan menulis, berbicara di depan publik, serta kewirausahaan sosial juga menjadi perhatian.
Menurut Wawan, materi tersebut nantinya dihimpun dalam platform bersama yang dapat diakses anggota FORDEKIIS. Setiap perguruan tinggi dapat mengadopsi materi sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing, baik sebagai mata kuliah tersendiri maupun bagian dari mata kuliah yang sudah ada.

Dalam pemanfaatan AI, ia menekankan pentingnya menempatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir mahasiswa.
“Kita ingin menjadikan AI betul-betul sebagai tools, sebagai alat bantu. Dia tidak menggantikan semuanya, tetapi membantu mempercepat proses pembelajaran,” katanya.

Penggunaan AI, lanjut dia, juga harus disertai pemahaman etika agar mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab tanpa kehilangan kemampuan analitis dan daya kritis.

Ketua FORDEKIIS, Hamidah Nayati Utami, mengatakan, forum tersebut menjadi wadah bagi perguruan tinggi untuk berbagi pengalaman dan membahas berbagai tantangan pendidikan tinggi.
Perbedaan karakteristik dan kondisi setiap kampus, menurut Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (UB) itu, membutuhkan komunikasi dan koordinasi berkelanjutan. Kolaborasi juga dapat dilakukan untuk mendukung pencapaian indikator kinerja utama perguruan tinggi.
Sementara itu, Dekan FISIP Undip, Teguh Yuwono, menilai kerja sama antarkampus penting untuk meningkatkan kualitas lulusan sekaligus memperkuat daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tingkat global.
Ia menegaskan, perguruan tinggi negeri tidak seharusnya hanya berkompetisi satu sama lain. Kampus yang lebih maju perlu ikut mendukung perguruan tinggi yang masih membutuhkan penguatan.
“Kita berkolaborasi untuk berkompetisi di tingkat global. Kompetisi kita bukan di antara sesama PTN, tetapi PTN harus saling membangun,” ujarnya.
Melalui FORDEKIIS, pengembangan mata kuliah bersama diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan ilmu sosial dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi negeri Indonesia di tingkat global.***


