Dari Laut hingga Pintu Nasabah, Kisah Mantri BRI Menemukan Makna Pengabdian

Berita Rekomendasi

MENJEMPUT CERITA NELAYAN – Willy Febriyan, Mantri BRI Unit Keling, bersama Rouf Purnomo, nelayan Desa Bumiharjo, Kecamatan Keling, Jepara, yang berjuang menghidupi keluarga selama 20 tahun sekaligus membangun kebersamaan melalui Kelompok Usaha Bersama. FOTO: DOK. BRI

SEPUTARJATENG.ID, JEPARA – Dua puluh tahun mengarungi laut menjadi perjalanan panjang bagi Rouf Purnomo, nelayan asal Desa Bumiharjo, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Di tengah cuaca yang tak menentu dan hasil tangkapan yang sulit diprediksi, ia terus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi Rouf, melaut bukan sekadar pekerjaan, melainkan tanggung jawab yang harus dijalani setiap hari. Ketika laut bersahabat, ada hasil yang dibawa pulang. Namun, saat cuaca buruk dan tangkapan berkurang, ia tetap harus mencari cara agar kehidupan keluarga terus berjalan.

“Kalau tidak melaut, dari mana keluarga kami hidup? Laut memang tidak selalu memberikan hasil seperti yang diharapkan. Tetapi kebutuhan keluarga harus tetap dipenuhi,” kata Rouf.

Menariknya, perjuangan Rouf tidak hanya untuk keluarganya. Bersama masyarakat sekitar, ia turut membangun Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan dipercaya menjadi ketua. Melalui kelompok tersebut, ia berharap para anggota bisa saling mendukung dan berkembang bersama.

“Bagi saya, kalau bisa berkembang bersama, tentu akan lebih baik. Kami sama-sama memiliki perjuangan dan kebutuhan,” tukas Rouf.

Perjalanan Rouf menjadi salah satu cerita berkesan bagi Willy Febriyan, Mantri BRI Unit Keling yang memiliki wilayah kelolaan Desa Bumiharjo. Dalam menjalankan tugas, Willy tidak hanya berhadapan dengan data dan administrasi, tetapi juga bertemu langsung dengan masyarakat dan memahami kehidupan mereka.

Baca Juga:  BRI Salatiga Peduli Pendidikan, Salurkan Beasiswa BRIKasih

Mendengar Cerita, Memahami Kebutuhan

Bagi Willy, setiap nasabah memiliki cerita dan perjuangan berbeda. Pertemuannya dengan Rouf memperlihatkan bagaimana seorang nelayan bertahan menghadapi ketidakpastian penghasilan sekaligus tetap memiliki kepedulian untuk membangun lingkungan sekitarnya.

“Di balik setiap angka terdapat manusia. Di balik sebuah pembiayaan terdapat harapan. Dan di balik sebuah usaha terdapat keluarga yang menggantungkan masa depannya,” ungkap Willy.

Karena itu, ia berupaya hadir langsung di tengah masyarakat. Kunjungan ke rumah maupun tempat usaha menjadi cara untuk membangun komunikasi, mendengarkan kebutuhan, serta memahami tantangan yang dihadapi nasabah.

Menurutnya, setiap usaha memiliki karakteristik berbeda. Nelayan, pedagang, dan petani mempunyai kebutuhan serta persoalan masing-masing sehingga pelayanan perlu disesuaikan dengan kondisi mereka.

“Saya berusaha memahami bagaimana kondisi usaha nasabah, apa kebutuhannya, apa tantangannya, dan bagaimana BRI bisa hadir sebagai bagian dari solusi,” jelasnya.

Baca Juga:  Peringati Imlek dan Bulan K3, PLN Upayakan Kesehatan Masyarakat dengan Kegiatan Donor Darah

Pengalaman tersebut menguatkan pemahaman Willy bahwa kehadiran BRI tidak sebatas memberikan akses permodalan. Lebih dari itu, membangun kepercayaan dan hubungan baik dengan masyarakat menjadi bagian penting dari pelayanan.

Pendekatan tersebut juga menjadi wujud penerapan Brilian Way dalam keseharian. Melalui kedekatan, kepedulian, dan pemahaman terhadap kebutuhan nasabah, Willy berupaya menghadirkan layanan yang memberikan manfaat nyata.

“Ketika kita memahami cerita nasabah, kita akan lebih mudah memahami kebutuhan mereka. Dan ketika kebutuhan dipahami dengan baik, kita bisa memberikan solusi yang lebih tepat,” tuturnya.

Belajar dari Ketangguhan NelayanHubungan antara Mantri dan nasabah ternyata juga menjadi ruang untuk saling belajar. Bagi Willy, ketangguhan Rouf selama dua dekade menghadapi kerasnya kehidupan laut memberikan pelajaran tentang kesabaran, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah.

Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga, Rouf masih memikirkan kepentingan masyarakat melalui KUB. Hal itu menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbagi dan membangun kebersamaan.

“Pak Rouf mengajarkan saya bahwa keberanian menghadapi kehidupan terkadang terlihat dari hal-hal sederhana. Tetap berusaha ketika hasil belum sesuai harapan dan masih memikirkan orang lain meskipun diri sendiri juga memiliki keterbatasan,” ungkapnya.

Baca Juga:  BRI Cetak Laba Rp31,2 Triliun, UMKM Tetap Jadi Penopang Utama

Bagi Rouf, perhatian dan komunikasi yang baik menjadi hal penting dalam menjalin hubungan dengan pihak perbankan. Terlebih, usaha nelayan memiliki risiko dan ketidakpastian yang berbeda dengan jenis usaha lainnya.

“Yang penting bagi kami, ada pihak yang mau mendengarkan dan memahami kondisi nelayan. Hasil melaut tidak selalu pasti, sehingga kebutuhan dan kemampuan setiap nelayan juga berbeda,” ujar Rouf.

Pengalaman mendampingi nasabah seperti Rouf membuat Willy semakin memahami makna pekerjaannya. Menjadi Mantri bukan hanya tentang pencapaian target, tetapi juga bagaimana kehadirannya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya ingin terus hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya untuk menyalurkan pembiayaan, tetapi juga memahami perjuangan mereka. Bukan hanya mengejar pencapaian, tetapi berusaha menciptakan dampak,” tegasnya.

Dari Desa Bumiharjo, kisah Rouf dan Willy memperlihatkan dua perjuangan yang berjalan beriringan. Rouf mengarungi laut demi keluarga dan membangun kebersamaan, sementara Willy mengetuk pintu masyarakat untuk mendengarkan serta memahami kebutuhan mereka.

Sebab, di balik setiap nasabah selalu ada cerita yang tidak cukup dipahami melalui angka. Ada perjuangan, keluarga, dan harapan yang membuat pekerjaan seorang Mantri memiliki makna lebih dari sekadar pelayanan perbankan. (har)

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini