GJLS: Berapi-api Tak Sekadar Melucu, tetapi Mengungkap Beratnya Tugas Damkar

Berita Rekomendasi

SEMARANG – Tugas petugas pemadam kebakaran (damkar) ternyata tak hanya berkutat dengan api. Dari membantu warga yang kesulitan hingga menjalankan berbagai misi penyelamatan, keseharian mereka menyimpan banyak cerita unik yang terkadang mengundang tawa. Sisi lain profesi tersebut diangkat dalam film GJLS: Berapi-api yang memadukan komedi dengan kisah nyata di lapangan.

Gambaran itu terlihat dalam pemutaran film GJLS: Berapi-api di Studio 5 Citra XXI, Kota Semarang, Minggu (18/10/2026) sore. Sejumlah adegan yang dekat dengan pengalaman masyarakat sukses memancing gelak tawa penonton, sekaligus memperlihatkan luasnya tanggung jawab petugas damkar.

Film yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 5 November 2026 tersebut dibintangi Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, Carissa Perusset, Aurra Kharisma, dan Ebel Cobra. Ceritanya berpusat pada tiga sahabat yang menjalani kehidupan sebagai petugas pemadam kebakaran, lengkap dengan berbagai tantangan dan pengalaman tak terduga selama bertugas.

Rigen Rakelna mengungkapkan, sejumlah peristiwa dalam film tersebut terinspirasi dari pengalaman nyata petugas damkar. Tim produksi bahkan melibatkan Khairul Umar, seorang petugas damkar, untuk berbagi cerita sekaligus membantu para pemain memahami situasi yang biasa dihadapi di lapangan.

Menurut Rigen, banyak kisah menarik yang diperoleh dari pengalaman Khairul. Namun, tidak semuanya dimasukkan ke dalam film karena harus disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Baca Juga:  Agresif dan Inovatif, ARTUGO Perkuat Pasar Semarang

“Ada damkar beneran yang main di film kita, namanya Khairul Umar. Sebenarnya, kejadian-kejadian lucu yang dia ceritakan banyak banget. Yang kita masukkan ke film cuma beberapa,” tutur Rigen.

Beberapa cerita yang diangkat di antaranya petugas damkar membantu orang yang kesurupan, mengambil rapor anak sekolah, hingga menolong seseorang yang terjepit pagar. Situasi yang terdengar tidak biasa itu dikemas menjadi adegan komedi, tetapi tetap menggambarkan kenyataan bahwa masyarakat kerap membutuhkan bantuan petugas damkar di luar urusan kebakaran.

Untuk membangun karakter yang meyakinkan, para pemain juga mengikuti lokakarya sebelum menjalani proses syuting. Mereka diperkenalkan dengan dasar-dasar pekerjaan pemadam kebakaran, termasuk cara menghadapi api dan menggunakan peralatan keselamatan.

Rigen mengaku pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami beratnya pekerjaan petugas damkar. Para pemain harus mengenakan jaket pemadam atau fire jacket dengan berat hampir 10 kilogram serta memegang selang bertekanan tinggi.

Meski hanya berlatih selama tiga hari dan mempraktikkan pemadaman api sekitar 10–15 menit, ia merasakan langsung betapa menguras tenaga pekerjaan tersebut.

“Kita cuma tiga hari belajar dan memadamkan api itu hanya 10 atau 15 menit. Rasanya capek banget, jadi kita tahu banget bagaimana perjuangan teman-teman Damkar,” ungkapnya.

Baca Juga:  Mudah & Ekonomis! Ini Cara Aktivasi Paket Umroh Plus XL Axiata di myXL

Pengalaman itu juga membuat Rigen teringat kepada petugas dan relawan yang masih berjuang menangani kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Ia berharap kebakaran segera terkendali, kabut asap menghilang, dan kawasan hutan yang terdampak dapat kembali pulih.

Sementara itu, Ananta Rispo menjelaskan bahwa proses penggarapan film turut melibatkan konsultan komedi. Langkah tersebut dilakukan agar unsur humor dapat menyatu dengan alur cerita tanpa menghilangkan inti kisah yang ingin disampaikan.

Meski naskah telah disiapkan, para pemain tetap diberi kesempatan untuk berimprovisasi selama proses syuting. Dengan demikian, sejumlah adegan dapat terasa lebih alami sesuai karakter dan situasi yang dibangun.

Rispo menambahkan, cerita film tersebut merupakan perpaduan antara pengalaman nyata petugas damkar dan kisah fiktif yang dikembangkan untuk kebutuhan sinematik. Salah satu bagian yang dirancang sebagai pengembangan cerita adalah keterlibatan tiga tokoh utama dalam membongkar sindikat penjualan anak.

“Cerita film ini ada sebagian dari kejadian nyata, ada beberapa yang memang kita tulis di skrip untuk kebutuhan film,” imbuh Rispo.

Pemutaran film tersebut juga disaksikan sejumlah petugas Damkar Kota Semarang. Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengaku terhibur dengan komedi yang disajikan. Namun, di balik kelucuannya, ia melihat sejumlah adegan yang mencerminkan pengalaman petugas ketika memberikan pertolongan kepada masyarakat.

Baca Juga:  Rekomendasi 6 Destinasi Paling Seru untuk Liburan Natal dan Akhir Tahun 2024

Ade menjelaskan, tugas damkar memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada memadamkan api. Petugas juga menjalankan fungsi penyelamatan atau rescue, mulai dari penyelamatan hewan (animal rescue), penyelamatan di air (water rescue), hingga penyelamatan di ketinggian (vertical rescue).

Menurut dia, berbagai permintaan bantuan dari masyarakat menunjukkan bahwa petugas damkar sering menjadi pihak yang dihubungi ketika warga menghadapi situasi darurat maupun kesulitan tertentu.

Ade bahkan mengaku pernah dimintai bantuan oleh seorang anak sekolah untuk mengambil rapor. Pengalaman tersebut serupa dengan salah satu adegan dalam film yang menggambarkan petugas damkar membantu warga di luar tugas pemadaman kebakaran.

“Dari tadi ketawa terus lihat filmnya. Memang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri itu ada namanya fungsi penyelamatan atau rescue. Adegan membantu mengambil rapor juga pernah terjadi di Kota Semarang,” kata Ade.

Melalui pendekatan komedi, GJLS: Berapi-api mencoba menghadirkan gambaran profesi petugas damkar dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di balik adegan lucu dan situasi yang mengundang tawa, film ini juga memperlihatkan dedikasi petugas yang harus siap menghadapi beragam persoalan demi membantu masyarakat.

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini